Senin, 20 Desember 2010

SeJatinya Sejati

PERAN GURU DALAM USAHA MEMILIKI ILMU BATIN

2 December 2010 at 21:52 | Posted in +PERPUSTAKAAN UTAMA+ | 69 Comments DUCATI
prima_asyifa@yahoo.com
ass…yang saya hormati serta kepada seluruh mahasiswa KWA yang mulia…Kepada seluruh pembaca kwa saya turut prihatin atas comment2 yang menyudut kan keilmuan rajeh,,, terutama bagi para pemula….memang lebih baiknya jika belajar ilmu-ilmu bathin itu harus dibimbing. Karena dikhawatirkan akan timbul beberapa akibat dari setiap sebab mengamalkan keilmuan bathin tanpa guru yang membimbing. Biasanya akan timbul beberapa tanda pada seseorang yang belajar tanpa guru seperti:
Kurangnya keyakinan sehingga mudah putus asa, Tidak mendalami pengetahuan mengenai ilmu yang diamalkan, Bisa stress karena ilmu yang diamalkan tidak bisa di tajrib sebab belum menyatu dengan tubuh, bisa stress/gila karena terbukanya hijab mata bathin namun sipengamal ilmu belum siap melihat alam ghoib. Bisa stress/gila karena sipengamal belum punya pagar badan (ghoib) sehingga khodam atau jin masuk ketubuhnya. Akhirnya dia kesurupan dan sulit disembuhkan. Ini pernah terjadi dengan teman saya..
Jadi, alangkah baiknya jika untuk pemula lebih bagus memiliki guru/mursyid/kyiai yang dapat membimbing dirinya untuk mengamalkan suatu ilmu. Karena biasanya sang guru bisa menilai ilmu apakah yang pantas untuk kita. Apakah bisa seseorang belajar ilmu ghoib dengan tanpa guru/menerima ijazahan hanya sebatas lewat surat/email/internet?
Saya pernah membahas dengan salah seorang guru saya bahwa ijazahan ilmu dengan lewat surat , email dan internet karena memanfaatkan technology tidaklah mengapa, namun itu hanya besifat ‘ammiyah bukan khusussiyyah (bersifat umum bukan khusus) yakni untuk orang banyak bukan untuk perorangan. Dan biasanya bagi para pemula umum akan merasakan hasil yang berbeda dengan pemula yang belajar khusus. Ibarat orang yang belajar disekolah namun salah satunya juga ikut privat khusus. Jadi walau satu sekolah satu kampus namun tetap berbeda hasilnya. Saran saya buat para pemula seperti saya hendaknya memiliki minimal benteng ghoib untuk protect dari segala macam ilmu yang kita amalkan….
Mungkin sudah terlalu banyak murid2 dkwa memberikan testimony nya mengenai asr dan ilmu rajeh lainnya,,,termasuk saya pribadi dan jujur suka gemes membaca comment2 dari para pemula yang kecewa mengamalkan asr…namun tidaklah mengapa mungkin karena kurang pengetahuan dari para mahasiswa kwa mengenai ilmu rajeh..
Mungkin ada beberapa sesepuh juga yang kurang suka dengan ilmu rajeh dan maksud mereka mungkin juga baik untuk meluruskan akidah padahal menurut saya ilmu rajeh Juga termasuk ilmu Allah tapi ya sudahlah hanya sekedar unek2 saja. lagi pula beda pendapat itu sah2 aza…..
Oleh karena itu alangkah baiknya jika anda yang pemula belajar ilmu ghoib memiliki guru,, sehingga tidak menyalahkan ilmu asr/rdr/alr yang anda amalkan namun tidak dapat anda rasakan khasiatnya. Karena kunci keberhasilan terletak pada diri anda (si pengamal ilmu) bukan pada amalannya.. amalan ibarat pedang tergantung siapa yang pegang dan seberapa hebat dia menggunakan pedang tsb. Mohon maaf jika ada salah kata,, maklum saya juga baru belajar,,,,
Sekedar berbagi pengalaman, saya ingin share beberapa pengalaman saya mengenai hizib lathif kubro (bukan ilmu Rajeh,,) coz sya sendiri sudah bosan menerangkan keistimewaan ilmu rajeh sama orang yang kurang percaya. klo ga salah hizib ini juga pernah dimuat disalah satu majalah oleh Gus Idris Nawawi tja dan memiliki berbagai macam variasi jadi ga heran jika ada perbedaan lafadz dengan yang sedulur2 punya.. mungkin juga pernah di share oleh kwa???
Salah satu pengalaman hizb lathif….Setelah tiga malam lebih saya mengamalkan hizib lathif kubro,,,dimalam ketiga sekitar pukul 02.00 saya terbangun karena ada sesosok mahluk yang menarik tangan kanan saya entah mengapa mata saya tetap terpejam karena didalam hati saya tidak mau ganggu sesosok mahluk berjubah putih yang menarik tangan saya dan kemudian dari telapak tangan kanan saya mengalir sebuah aliran setrum yang merambat terus ke lengan dan terus masuk keperut saya. Saya sempet mual karena terasa seluruh organ perut saya seperti kejang karena menahan aliran setrum tersebut. Kejadian itu cukup lama kira-kira 10 menitan. Setelah itu sosok berjubah putih itu pergi dan tubuh saya pun lemas. Kemudian saya bangun dari tempat tidur dan ber wudhu.
Inilah Hizib Lathif Kubro
Wa’as aluka min ridhoillah yaa nabiyawloh yaa habibabawloh yaa syafa aturrosul Muhammad sollawlohu ‘alaihi wassalam, wa ahli asbabil jannah syaidina hasan wa husein bin ali bin abu tholib wa khususson min jami’il hadzal ijazah hijib lathif ma’al khodamus syarifah syaiul lillahumul fatihah (4x)
Ya Lathif 129x
Allahu lathifum bi’ibadihi yarzuqu may yasa, wahuwal qowiyyul ‘aziz, allahummaltusbi taisiri kullu amrin ‘Asirin fainna taisiro wal mu’afata fiddini wad dunya wal akhiroh 1x.
Bismillahirohmanirrohim.
Allahummaj ‘al afdholassolawati wa anmal barokat. Wa ‘ajkattahiyat. Fijami ‘il auqoot ‘ala asyrofil mahluqoot. Sayyidina wa maulana muhammadin akmali ahlil ardhi wassamawaat. Wassalam ‘alaihi yaa robbana azkattahiyyat. Fijami ‘il khothoroti wallahadzoot. Allahumma yaa man lutfuhu bikholqihi syamil. Wa khoiruhu li ‘abdihi waasil. Wasitrohu ‘ala ibadihi saabil. Laatuhk rijuna an dairotil althoof. Wa ‘ammanna min kulli ma nakhoof. Wakunlana biluthfikal khofiad dzhohir. Ya bathinu ya dzhohiru ya lathifu nas aluka wiqoyatalluthfi fil qodho‘i. wattaslima ma ‘as salamati ‘inda nuzulihi warrodho. Allahumma innaka antal alimu bima sabaqo fil azal. Fa khuffana biluthfika fima nazal. Yaa lathifa lam yazal. Waj ‘alna fi khirzin minattahassuni bika ya awwal. Yaa man ilaihil ‘iltija ‘u wa ‘alaihil muawwal. Allahumma yaman alqo kholqohu fi bahri qodo i. wahakama ‘alaihim bihukmi qohrihi wabtilaih. Ij ‘alna mimman humila fisafinatinnajah. Wawukia min jami ‘il aafatthuli hayat. Ilahana innahu man roathu ‘ainu inayatika kana maltufam bihi fitakdiir. Mahfudzon ma khudzon niri ‘ayatika ya qodiir. Yaa sami ‘u yaa bashiir. Yaa Qoribu yaa mujibud doa’. Irghona biaini roayatika yaa khoiru min roaa. Ilahi luthfukal khofiyyu althofa min anyuro. Wa antallathifulladzi lathofta bijami ‘il waroo. Qod hajabta saroyana sirroka fi akwaan. Fala yasyhudu illa ahlul ma’rifati wal ‘iyani falamma syahadu sirro hadzal luthfil waqii’. Hamuu madama luthfukaddaimil baqii. Ilahuna hukmu mas atika fil abiid. Latarudduhu himmatu arifiw wala muriid. Lakin fatahta lana abwabal althoofil khofiyyah. Al mani ‘ati khusunuha min kulli baliyyah. Fadkholna biluthfika tilkal khusuun. Yaman yaqulu lisyai i qun fayaquun. Ilahana antal lathifu bi ‘ibadik. Fabiahlil mahabbati walwidad. Hussona bilathoifil luthfi yaa jawadu. Ilahuna luthfu son atuka wal athofu kholquka watanfidu lasiama biahli mahabbatika wawidadika hukmika fikholqika haqoq. Wa ‘arofatu luthfika bil mahlukiin. Yamna ‘ustikso ‘a haqqoka fil ‘alamina ilahana lathofta bina qobla kaunina wanahnu liluthfi idzaka ghoiru muhtajiin. Aftamna ‘unaa minhu ma ‘al hajati lahu wa anta arhamurrohimiin. Hasya luthfukal kaafi. Waluthfakal wafi anyumna’ ‘anna wa antassyafi. Ilahana luthfuka hua hifduka idza roaita wahifduka luthfuka idza waqoita faadhilna surodikoti luthfik. Wadhrib ‘alaina astaro hifduk. Yaa lathifu nas alukal luthfa abada. Yaa hafidzu qinassu ‘a wassyarol ‘ida. Yaa Lathif 3x Man liabdikal ‘ajizil khoifid dzo ‘if. Allahumma kama lathoftabii qobla suali wakauni. Kunli la ‘alayya yaa aminu yaa mughni. Fa anta hauli wa kuwwati wa auni. Allahu lathifun bi ‘ibadihi yarzuqu mayyasa ‘u. wahuwal qowiyyul ‘aziz. Anisni biluthfika yaa lathif. Anisnil khoifa fi halil makhif. Ta anastu biluthfika yaa lathif wukitu biluthfikar roda fil makhif. Wahktajabtu bi luthfika minal ‘ida yaa lathif. Wawlohu miwwaro ihim muhith. Bal huwa qur anum majiid. Fi lauhimmahfudz. Najautu min kulli hatbin jasiim. Bikauli robba wala ya uduhu hifdzuhuma wahuwal ‘aliyyul ‘adziim. Salimtu min kulli syaithonniw wahasid. Bikauli robba wahifdom min kulli syaithonim mariid. Kufitu kullu hamma fikulli sabiil. Bikauli hasbiyawlohu wani’mal wakiil. Allahulaa ilaha illa huwal hayyul qoyyum. Lata-huduhu sinatu wala naum. Lahuma fissamawati wama fil ardh. Mandzalladzi yasyfa’u ‘indahu illa biidznih. Ya’lamuma baina aidihim wama kholfahum. Wala yuhituna bisyaiim min ‘ilmihi illa bimassyaa. Wasia kursiyyuhussamawati wal ardho wala yauduhu hifdzuhuma whuwl ‘aliyyul ‘adzhim. Laqod jaa akum rosulum min anfusikum ‘azizun ‘alaihi maa anittum harisun ‘alaikum bil mu-minina roufurrohiim. Fa intawallaw fakul hasbiyawlohu laailaha illa hu. ‘alaihi tawakkaltu wahuwa robbul ‘arsyil ‘adzhiim. Li ila fi quroisyin. Ilaafihim rihk latasyita I wassoiif. Fal ya’ budu robbahadzal baitil ladzi ath amahum min juuiwwa amanahum min khouf. Iktafaitu Kaaaf Ha Ya ‘Aiin Sood. Wahtaimubi Ha Miim ‘Aiin Syiin Qoof. Qouluhul hakku walahul mulku salamun qoula mir robbi rohiim. Ahuna qoofa adumma hamma haaun amiin. Allahumma bihakki haadzihil asma i wal asror. Qinassaro wal asroor. Wakullama anta kholiquhu minal akdar. Qul man yak lukum billaili wannahar. Bihakki kala atin rohmaniyatika ak Alana wala takilna ila ghoiriiha thotik. Robba hadza dzulla suali bibabik. Lahaula wala quwwata illa bik. Awlohumma solli wassalim wabarik ‘ala man arsaltahu rohmatan lil ‘alamin.
Pernah juga ketika mondok di banten saya dikasih amalan isim tunggal hizb Rifa’I,,,dari Kiyai pondok tsb…setelah sempurna saya amalkan selama 7malam dengan puasa bila ruh (ga makan yang bernyawa) dimalam terakhir saya bermimpi ketemu dengan Kiyai atau guru saya ketika saya nyantren di Tangerang. Beliau memakai baju serba hijau duduk didepan saya kemudian tersenyum kepada saya setelah itu pergi tanpa bicara sedikit pun. Kiyai atau guru saya yang ditangerang tsb memang terkenal dengan ceramahnya bahkan sekarang beliau sudah sering mengisi ceramah di tv. Saya tidak tahu apa makna mimpi itu sampai saya pulang dari banten,, dirumah, saya dikasih tugas mengisi ceramah pada pernikahan kaka saya entah kenapa yang sebelumnya saya ceramah badan saya gemetar, gugup karena melihat orang banyak, maklum karena saya belum bisa ceramah, namun aneh ketika memegang microphone semua perasaan tsb hilang secara tiba-tiba bahkan saya berceramah dengan lancar sehingga banyak yang terkesan terutama pengajian ibu-ibu yang turut hadir disitu. Sehingga banyak tawaran ceramah sering diajukan kesaya namun saya menolaknya dengan halus karena saya merasa belum pantas. Setelah saya pikir2 mungkinkah ini berkah dari mimpi tersebut ketika dibanten???wawlohu a’lam
Asma Birhatihiin (pernah dishare namun berbeda sedikit)
Walaya-uduhu hifdzuhuma wahuwal ‘aliyyul ‘adziem. Wa hifdzhom ming kulli syaithonim marid. Wahifdzong dzalika taqdiyrul ‘adzhiy-dzhiyl ‘aliim. Wa hafidzhna haa ming kulli syaithonir rojiim. Inna nahnu nazzalna dzikro wa inna lahu lahaa fidzhuwn. Lahu mu’aqibaatum mim baini yadayhi wa min kholfihi yahfadzhuw nahu min amrillah. Allahu hafidzhum ‘alaihim wama anta ‘alaihim biwakiil. Ingkullu nafsil lamma ‘alaiha hafidzh. Bal huwa qur-anummajiid fi lauhim mahfuwdzh. Faing tawallau faqul hasbiyaulohu laa ilaha illa huwa ‘alaihi tawakkaltu. Wahuwa robbul ‘arsyil ‘adzhiem…
Ya Hafidzh 3x
Ya hafidzhu ihfadzhna. Allahumma ahrusna bi’aiynikallati laa tanam waknufna bikanafikal ladzi laa yuroom. Ya allah3x, yaa Robbul ‘alamiyn Birhatiyhin 2x, kariyrin 2x, tatliyahin 2x, thuwroonin 2x, mazjalin 2x, Bazjalin 2x, Tarqobin 2x, Barhasyin 2x, Gholmasyin 2x, khuwdzhiyrin 2x, qolnahuwdin 2x, barsyanin 2x, Kadzhohiyrin 2x, ghowussalakhin 2x, barhayuwla 2x, Baskaylakhin 2x, qozmarin 2x, An-gholaliythin 2x, qobarootin 2x, Ghoyahaa 2x, kaydahuwlaa 2x, syamkhookhirin 2x, Syamkhoo-khiirin 2x, Syam haa-hiirin 2x, bikahthohawnayhin 2x, Bisyarisyin 2x, thuwnasyin 2x, Syamkho baaruwhin 2x,
Allahumma bihaqqi kahkahiyjin yagthosyin balthisghosguwiylin amwiylin, jalda mahjama halmajin warudiyatin mahghoyajin, bi ‘izzatika illa maa a-khodztu sam’ahum wa abshorohum subhanamal laysa kamitslihi syaiuw wahuwas samiy’ul bashiiir
Walau pernah dishare ada perbedaan dari asma birhatihin ini. Asma ini sangat bagus bagi para sedulur yang mau membuktikan kehidupan para wali Allah di bumi nusantara. Saya mendapatkan pelengkap mengenai asma ini dari jawa tengah. Jadi silahkan aja yang mau amalkan sapa tau cocok…….
Pengalaman saya hari pertama mengamalkan asma ini bermimpi ketemu Syekh Siti Jenar,, namun saya tidak langsung percaya akhirnya terjadi berbagai macam dialog sama beliau termasuk beliau menjelaskan mengenai rahasia ketuhanan yang pernah ditutupi oleh para wali songo pada awal penyebaran islam dari masyarakat awam.
Namun saya tetap tidak percaya bahwa beliau itu Syekh Siti Jenar karena khawatir jin yang menyamar,, akhirnya beliau menantang saya apa yang harus saya lakukan untuk membuktikan bahwa saya ini Siti jenar?? Akhirnya saya meminta kepada beliau untuk mengambilkan apel dari alam ghoib yang pernah dilakukan oleh Syekh Abdul Qodiir. Kemudian Syekh Siti menjulurkan tangannya didepan saya dan ditutup dengan telapak tangan satunya,,dan ajaib muncul sebuah apel yang berwarna hijau namun yang membuat saya takjub apel tersebut memancarkan cahaya.. belum sempat saya memegang apel itu eh Syekh Siti menutup dengan telapak tangan lagi dan apel tersebut berubah menjadi semangka. Semangka itu dia belah dengan ujung jari telunjuknya mengeluarkan cahaya kunig ke emasan tanpa menyentuh kulit semangka dan saya disuruh mencicipi buah semangka yang telah dibelah itu dan ternyata rasanya manis sekali berbeda dengan semangka yang selama ini saya makan didunia nyata. Dan entah tiba2 saya kaget terbangun,, saya masih bingung tadi mimpi tapi seperti nyata dan “kres” gigi saya ga sengaja menggigit ternyata ada sisa semangka dimulut saya yang tadi saya makan didalam mimpi sya gigit lagi dan benar manis……Aneeeh tapi nyata???? Padahal saya makan semangkanya didalam mimpi tapi kenapa pas bangun masih ada sisa semangkanya??? Akhirnya saya lari kekamar mandi karena saya lupa lagi puasa dan buru2 deh kumur2,,hehehe
Di hari ke 7 bermimpi diajak berpetualang dengan seorang waliullah,, dan dia menasehati hendaknya setiap mengamalkan sesuatu selalu memberi salam kepada para wali, insya Allah salam kalian akan didengar dan dijawab oleh para wali.
Pengalaman ini pernah saya ceritakan dkwa lewat comment,,klo ga salah sebelum romadhon,,,
oya jika ada yang bisa diantara sesepuh yang bisa bertemu langsung dengan sulthonul auliya Syekh Abdul Qodir Jaelani tolong ditanyakan kepada beliau,, apa benar yang waktu hadir di Amerika itu beliau?? Karena pernah suatu saat saya diajak jalan2 oleh sesosok mahluk entah itu khodam atau jin yang jelas dia berbentuk manusia namun saya tidak dapat mnatap wajahnya karena ditutupi cahaya atau mungkin mata saya masih suka maksiat ,hehehe saya diajak ziarah ke Amerika ternyata disana ada makam Wali Allah,,, khodam tsb berdo’a diatas makam kemudian dia nangis akhirnya saya juga ikut nangis,,setelah selesai keluar dari makam saya melihat sosok jubah hijau berdiri memancarkan cahaya emas kehijauan dari seluruh tubuhnya namun setelah saya dekati ternyata beliau Syekh Abdul Qodir beliau tersenyum kepada saya dan kemudian menghilang….maaf bukan maksud pamer atau riya,,karma pernah saya baca di comment katanya ada sesepuh yang bisa datang ke majlisnya Syekh Abdul Qodir dialam ghoib??
Tolong tnyakan kepada beliau (jika bertemu) apakah benar itu beliau??? bersediakah beliau mengajarkan saya yang masih bejat ini untuk berma’rifat kepada Gusti Allah???????terima kasih wass…. @@@

PERABOT ASTRAL MANUSIA (Lanjutan)

15 October 2010 at 12:51 | Posted in +PERPUSTAKAAN UTAMA+ | 25 Comments yus ardiansyah
zeusarus@yahoo.com
3. Tubuh Roh Murni ( Karan Sarira )
Alam ini memiliki dimensi yang lebih tinggi dan lebih halus dari dimensi tubuh astral ( Sukma Sarira ). Unsurnya terdiri dari indera ke enam ( Ajna Cakra ), Dalam susunan unsur sukma sarira, ajna cakra memang pusar batin tertinggi, namun yang paling bawah dalam susunan unsur karan sarira. Di atas ajna cakra ada lagi alam batin yang lebih tinggi yaitu Sasra Cakra disebut juga cakra ke tujuh atau pitu sukma
4. Roh Sajati ( Sukma Sajati )
Tubuh ini disebut juga Astana Purna yaitu jiwa kita, jiwa memiliki sifat – sifat ilahi, artinya memiliki sifat – sifat yang mirip dengan Khaliqnya, yaitu Tuhan YME. Namun demikian jiwa dianggap sebagai seperjuta dari percikkan cahaya dan kuasa Tuhan. Jiwa juga disebut Baitullah, tempat bersemayamnya cahaya Tuhan. Para Nabi, Wali Allah dan insan kamil adalah pribadi yang telah dekat dengan Tuhan, Dengan mencapai sukma sejati mereka para suci dapat berhubungan langsung dengan Tuhan YME, tanpa dibatasi sesuatu lagi, di dalam jiwa mereka hanya mencintai Sang Maha Pencipta.
Memang jati diri jiwa itulah tempat bersemayamnya cahaya Tuhan atau Baitullah namun jangan kita jadi salah faham atau sombong dengan mengangap bahwa jiwa kita itu Tuhan atas kita, sedang jiwa itupun karya Sang Maha Pencipta, karena itu janganlah kita menerima perkataan para sufi dengan mentah – mentah tanpa kita cerna lebih jauh, karna perkataan para Wali Allah yang sudah mencapai Sukma Sajati sulit di terima olah orang awam seperti kita apalagi di tinjau dengan ilmu Syariat yang pasti di cap Kafir, seperti perkataan sufi – sufi berikut :
- Syekh siti jenar mengatakan : Awit Syekh Lemah Abang, Wajahing pangeran jati…… artinya kurang lebih : Oleh karena Syekh Siti Jenar itu sesungguhnya ialah wajah wujudnya Tuhan Sejati.
- Al – Hallaj, Mistikus terkenal mengatakan : Anal Haqq, wama fii jubbati illallah…. Artinya kurang lebih : Sayalah kebenaran yang sejati itu, dan tidak ada yang di dalam jubahku, kecuali Allah.
Haruslah di sadari bahwa Tuhan Yang Maha Pencipta itu bersifat Esa, sedang jiwa atau sukma sejati bersifat ciptaan karya yang Maha Pencipta. Namun jiwa itu menyukai sesuatu yang sifatnya kebenaran, kesucian dan penyembahan kepada Tuhan sehingga jiwa memiliki tempat yang sangat sulit dicapai oleh kita, kecuali oleh orang – orang yang mendapat nikmatullah seperti Nabi dan Para Wali.
Kembali mengupas mengenai tubuh manusia, secara system dan mekanisme tubuh menusia mirip dengan pohon yaitu memiliki akar sebagai sumber kekuatan dan kehidupan, Hanya perbedaaannya pohon memiliki akar di bawah sebagai sumber tenaga dan hidup, sedangkan tubuh manusia memiliki akar sebagai sumber tenaga dan hidup yang terletak di atas kepala yaitu Nur Suhud atau Roh Sejati atau Jiwa, sedangkan tenaga dan kehidupan jiwa kita di peroleh dari yang Maha Tinggi yaitu Tuhan YME.
Karena itu tubuh kita ini seperti pohon terbalik, dimana akar sebagai sumber hidup berada di atas, itulah sebabnya beberapa ilmu kesaktian gaib memakai gambaran tersebut, seperti Aji Waringin Sungsang, Rogrog Asem, dll ( yang berarti pohon terbalik)
Sedikit Tips bagi para sedulur KWA yang ingin menekuni maupun mempelajari mistik tubuh, ini matra pembuka dan membangkitkan kekuatan cakra – cakra yang ada di dalam diri kita:
BISMILLAHIRAHMANIROHIM, GEDONGING SUKMA, PASEBANING SUKMA, NUR SUKMA MULYA, BALI ROSOKU TUNGGAL, NGULING NGELING KA PANGERAN, MURUB CAHYA RASUL, NUR BUWAH, NUR SUWAH, NUR AJALI YA SUKMA , YA TANGiA RASA MULIA
Spesifikasinya :
- jika di baca pada hari sabtu serta lelaku puasa melek ( tidak tidur ) sehari semalam, akan membuka kekuatan ajna Cakra / indera ke enam
- jika di baca pada hari kamis serta lelaku puasa mutih tidak makan yang memiliki rasa terutama garam, akan membuka kekuatan gaib Anahata Cakra
- jika dibaca pada hari sabtu atau selasa dengan lelaku puasa nglowong tanpa makan dan minum satu hari satu malam, akan membuka kekuatan gaib Manipura Cakra
Sedangkan berikut ini adalah mantera pembersih lahir batin, dengan cara dibaca pada saat mandi, tepatnya dibaca sebelum air dibanjurkan, selain lahir batin bersih kita juga akan mudah ketempel ilmu.
Niat ingsun jinabat adus banyu kudratulloh, ngedusi sadulurku papat, kalmia badan, nenem nyawa, pitu sukmo, sah badan kari sempurno.
Tata cara lengkap nya bisa di baca pada postingan MANDI TIRTO JATI, walaupun ada sedikit perbedaan kalimat mantera, tapi saya rasa tujuan tetap sama, dan tidak jadi masalah mana yang dipakai para sedulur, karna saya setuju dengan apa yang pernah ditulis oleh Rektor KWA, bahwa telinga tiap murid berbeda. Mohon Maaf jika ada kata yang salah. @@@

MENYAKSIKAN ALLAH (KUNCI PERTAMA SETIAP TINGKAT TAREKAT)

4 October 2010 at 00:57 | Posted in MENYAKSIKAN ALLAH | 61 Comments
Santosoiman Wahyu
santosoimanwahyu@yahoo.com

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam hormat untuk para sedulur dan sesepuh KWA. Bahasan ini adalah kelanjutan dari pembahasan sebelumnya yaitu “Urutan Ilmu Hikmah dan Sufi”. Tiada maksud apa-apa dalam pembahasan ini selain sekedar share dan memohon karunia Allah SWT. Karena minimnya dan terbatasnya pengetahuan saya jadi mohon maaf jika ada yg kurang dan tidak berkenan. Mohon dikoreksi. Karena hanya Allah SWT saja samudra ilmu dan sebenar-benarnya pemilik kebenaran. Pada Bahasan yg lalu saya menulis tentang kunci pembuka tarikah/tarekat untuk memasuki setiap tingkat. Kunci itu ada 2 yaitu : Syahadat dan Istinja.

Saya akan membahas kunci pertama (Syahadat) :
Bismillahir Rahmanir Rahim. Syahadat adalah sebuah kalimat inti dari segala inti adanya mahluk di alam ini. Dalam kalimat ini terdapat sebuah pengakuan tentang siapa Tuhan kita dan siapa yg mengabarkannya. Kita semua pasti tahu apa Syahadat itu yaitu “ Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah Rasul Allah”

Tapi apa kita tahu sebenarnya mengapa Syahadat itu menjadi kunci dari segala kunci keimanan kita kepada Allah, Menjadi kunci dari setiap tingkat iman kita kepada Allah, Kunci setiap ruang tingkat dalam hati kita. Sehingga Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ((فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ))

“Sesungguhnya Alloh mengharamkan atas neraka terhadap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah, dia mencari wajah Allah dengan (perkataan) nya.” [Hadits Shohih Riwayat Bukhari no: 425, 667, 686, 6423, 7938; Muslim no: 33, 657; dari ‘Itban bin Malik]

Orang yang bersyahadat harus disertai ilmu. Maka orang yang mengikrarkan syahadatain wajib mengetahui makna syahadatain dengan sebenarnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ}

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. [QS. Muhammad (47): 19]

Sekarang kita harus menyadari makna sebenarnya dari dua Kalimat Syahadat tersebut mengapa menjadi kunci dari segala kunci kehidupan kita. Untuk membuka Ruang demi ruang yang ada di hati kita menuju Makrifatullah.

Syahadat Kunci Ruang Pertama (Syariat): Bismillahir Rahman Nirahim. Hanya Allah yg tahu. Saya coba mengulas dengan keterbatasan saya.

Pada Ruang pertama ini / level pertama dari ruang hati (Syariat). Syahadat ini adalah penentu ke Islaman Mahluk Allah. Pada ruang ini manusia bersyahadat sering kali hanya sekadar lisan / jasad tanpa mengetahui apa sebenarnya di balik kalimat yg menentukan hidup kita. Kita hanya tahu tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adlah Rasul Nya. Sehingga ada istilah Islam tapi tidak mukmin. Islam tapi tidak Salam (memberi kedamaian). Karena hanya sebatas bibir saja. Islam saya yg benar, islam kamu salah. Itu dosa, itu bidah. Mudah bagi kita mengkafirkan orang lain dan mendosakan orang lain. Sesungguh dalam kita bersyahadat itu ada ilmunya yaitu kenali dirimu maka kamu akan mengenali siapa Tuhanmu. Ada yang hal kunci Sirr yang kita lupakan dari Syahadat itu yaitu Kalimat ‘ Saya bersaksi…’ bagaimana kita bersaksi jika kita tidak melihat Allah. Bagaimana kita melihat Allah jika kita tidak mengetahui caranya dan tidak mencari pengetahuannya. Mungkinkah kita melihat Allah..jawabnya adalah Pasti. Lho bagaiman bisa, kita hanya manusia biasa kok bisa melihat Allah. Bahkan ada yg mengatakan itu mustahil dan dosa..(Masya Allah) bagaimana kita bisa bersaksi jika kita tidak melihat..kita lupa kepada Ayat Allah yang berbunyi dalam surah Al Baqarah ayat 45,46 yang artinya

“Dan Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat.dan sholat itu sesungguhnya berat kecuali bagi orang yang khusuk”, kemudian “Yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhan Nya dan bahwa mereka akan kembali pada Nya” .

Arti menemui Tuhan pada kalimat tersebut tidak mengatakan pada saat kita sudah Meninggal karena disambung dengan kalimat bahwa mereka akan kembali pada Nya.. Nah baru pada akhir surat tersebut kita menunjukan keyakinan kita akan kembali / meninggal.

Pada manusia yang penuh dengan karat di hati maka hijab itu menutupi kita untuk melihat Allah. Sesungguhnya melihat Allah itu bisa dilakukan dengan jalan Melihat alam ini melihat kebesar ciptaan Nya.

Rasulullah SAW bersabda : “Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Baginda berkata, “Sungguh kamu akan melihat Rabb (Allah), sebagaimana kamu melihat bulan yang tidak terhalang dalam memandangnya. Apabila kamu mampu, janganlah kamu menyerah dalam melakukan solat sebelum terbit matahari dan solat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu marilah kita bersama-sama berusaha jangan menyerah karna itu sudah dijanjikan oleh Allah.

Syahadat Pada Tingkat Kedua / Hakikat : Ya Allah Ampuni Hamba, hanya Engkau lah yg Maha Tahu. Bismillahir Rahmanir Rahim

Pada tahap ini maka kita bersyahadat bukan hanya bibir tapi juga hati. Dan meyakini dengan sebenar-benarnya yakin. Kita menjadi sedikit tahu bahwa semua di dunia ini Kuasa Allah dan kita tiada daya ‘La Hawla wala Quwatah ila Billah”. Pada tahap ini Kita Bersaksi dengan dibenarkan oleh Hati kita melihat dengan Hati. Bahwa semua ada Allah di balik sesuatu. Kita bersaksi karena kita merasakan kuasa Nya. Kita dapat tahu bahwa yang Genap itu ada Ganjilnya :

Kita melihat diri kita sendiri (Kanali diri maka akan mengenali Tuhan Mu) 2 = 1+1 , 2 Untuk Manusia 1 untuk Allah : (maaf jika kadang saya sulit menjelaskannya, karena terbatasnya pengetahuan saya), saya akan coba.. 2 = Untuk Mahluk. apa yang 2 itu adalah diberikan kepada Mahluk Allah (Manusia dan Jin) : Adz Zariat 56. : laki-laki dan perempuan, sorga neraka, 2 Mata, 2 tangan, 2 kaki, 2 paru-paru, 2 ginjal, 2 buah zakar, 2 ovarium, apa-apa yang dua gunanya untuk Hablum Minanas, untuk regenerasi, apa-apa yang genap jika dikurangi satu maka akan tetap hidup karena 2-1 = 1 ( Masih ada Nyawa / Hayun ) tangan di amputasi masih tetap hidup. Artinya segala yang bepasangan adalah untuk Hablum Minanas.

1 = Al Wahid / Allah di berikan karena adanya Roh: dari bawah : Anus , Kemaluan, hati, jantung, otak, membentuk susunan lurus Alif, Satu menuju Allah. Jika dihilangkan maka hilang pula Nyawa kita. Kemaluan kita ditutup maka kita akan mati, anus ditutup sama, demikian juga dengan Jantung.

Hati : Jika rusak maka rusak juga tubuh kita/ perbuatan kita. Oleh karena itu mengapa kita kadang sulit mencari adanya Allah padahal ditubuh kita terdapat kebesar Nya. Demikianlah tanda-tanda bagi orang yang beriman.

Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya badan ini bukan punya kita maka sebagai yg diamanahkan hendaklah menjaga. Allah itu Maha Rahman dan Rahim. Sesuatu yg haram bukan karena Allah membenci hambanya tetapi karena sayangnya. Khamar haram karena merusak. Syahadat pada tahap ini adalah Syahadat Jasad dan Ruh. Kita menyaksikan Allah lewat Anggota tubuh kita sendiri.

Syahadat pada Tingkat ketiga Makrifatullah. Ya Allah Ampuni Hamba Mu ini. Saya tidak dapat menerangkan tingkat ini dengan sebaik-baiknya karena memang saya kurang sekali pengetahuannya. Namun saya mencoba dengan sedikitnya ilmu saya yang saya ketahui, apabila ada yang kurang harap ditambahi dan apabila ada yg salah harap dikoreksi. Karena yang Maha Benar adl Allah SWT.

Bismillahir Rahmanir Rahim. Syahadat pada level ini bukan lagi dibibir dan dijasad tapi sudah beriring dan bahkan utk Wali-wali sampai terucap ‘Tiada Tuhan selain Aku, dan Muhammad utusan KU’ : Ibnu Arabi / Al Halaj dan syeh Siti Jenar. Sehingga pendapat tsb dianggap menyesatkan dan dihukum. Tapi saya tidak ada kuasa untuk menyalahkan atau membenarkan hal tsb. Karena sekali lagi saya tidak ada kemampuan.

Hanya saja saya berpendapat bisa saja hal itu terjadi karena Saking dekatnya Hamba dengan Allah. Seperti dalam Ayat Al Quran yang dikatakana : “Jika hambaku bertanya tentang Ku maka katakan saja bahwa aku lebih dekat dari pada urat nadi dilehermu” seperti jika kita sudah akrab sekali kadang kita mengatakan kalau ada perlu sesuatu bilang aja sama saya. Nanti saya sampaikan. Sama aja kok….nah mungkin seperti itu.

Sedangkan Untuk Baginda Rasul, Nabi Muhammad SAW. Syahadat itu memang menyaksikan secara lahir dan batin sewaktu Beliau Mi’raj ke Sidratul Muntaha. Bahkan pada Mi’raj tersebut Nabi Muhammad di beri Salam oleh Allah SWT. (Bacaan duduk Tahiyat). Oleh karena itu untuk menyaksikan Allah bagi Hamba Nya yaitu Sholat lah Khusuk. Karena kita akan Mi’raj dan menyaksikan Allah SWT.

“Sungguh kamu akan melihat Rabb (Allah), sebagaimana kamu melihat bulan yang tidak terhalang dalam memandangnya. Apabila kamu mampu, janganlah kamu menyerah dalam melakukan solat sebelum terbit matahari dan solat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Gapailah dengan Ilmu. Semoga jangan sampai kita jadi orang yg dibutakan oleh Allah. Seperti dalam surah al-Israa’ [17] ayat 72 disebutkan: “dan barang siapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya”.

Maafkan Saya sesungguhnya hanya Allah yg Tahu. Yg benar dari Allah yg salah tentu dari saya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. @@@

URUTAN DARI ILMU HIKMAH DAN SUFI

30 September 2010 at 17:03 | Posted in ILMU HIKMAH DAN SUFI | 82 Comments
Santosoiman Wahyu
santosoimanwahyu@yahoo.com
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Smg Allah SWT mencurahkan Rahmatnya buat kita semua. Salam hormat untuk para Sedulur dan Sesepuh KWA. Saya mencoba menjawab apa yang pernah saudara saya Mas Ampel tanyakan. Saya minta maaf sekali jika jawaban saya kurang berkenan di hati kerena terbatasnya pengetahuannya saya. Mohon sekiranya dimaafkan. Karena saya baru belajar Alif .
Bismillahir Rahmanir Rahim. Mas Ampel bertanya “urutan dari ilmu hikmah sampai sufi apa saja tingktan awal dan akhir?dan caranya mas?
Jawab: Mas Ampel saudaraku..Maaf saya coba jawab dengan keterbatasan saya karena sebenarnya di KWA ini banyak pengetahuannya yang lebih dari saya. Sekiranya salah mohon diluruskan. Sesungguhnya Sufi itu bukanlah tingkatan tetapi adalah seseorang yang mencoba berjalan mendekati Sang Maha Pencipta. Dia berjalan dengan bersungguh-sungguh dengan caranya dengan metodenya / Cara / Jalan/ Tarik/ Tarikat / Tariqoh.
Dan Ilmu Hikmah menurut islam itu bukan suatu urutan tapi karomah/ pemberian Allah SWT dari sisinya (LADUNI) : seperti seorang ahli Hikmah dalam Al-quran yang memindahkan singasana ratu Bilqis ke dalam kerajaan Nabi Sulaiman AS. QS Surat 27 : An-Naml ayat 40.
Jalan untuk mendekati Allah SWT berbagai macam yang biasa kita Klasifikasikan menjadi 3. tiga (3) ruang yang bertingkat dari bawah sampai ruang tingkat atas. . Tetapi sebelum naik Tangga kita tentu sudah mempunyai Kunci. Untuk membuka ruang dasarnya. Kunci tersebut adalah Dua Kalimat Syahadat. Ruang ini terdapat dalam kalbu kita. (Insya Allah sudah pernah saya bahas dalam Dzikir Teles dan Dzikir Garing). Kunci kedua adalah Istinja yang benar (Insya Allah akan saya terangkan nanti suatu saat)
Ruang pertama (Syariat / Syar’I / Islam)
Ruangan ini adalah ruang pertama dari Hati kita mengenal Islam secara syar’I secara benar menurut kaidah Al-quran dan Hadist. Segala sesuatu akan kita sandarkan dalam dalil Aqli dan Naqli. Ruang ini besar dalam hati kita sehingga bercampur baur dengan kebenaran dan lainnya. Emosi dan jiwa , akal dan nalar masih mendominasi. Kebenaran dilihat hanya dengan mata dan dalil yang kita artikan secara pribadi diri. Sehingga Sholat hanya gerakan tiada makna, kosong tanpa nyawa. Kita cenderung menyalahkan pada sesuatu yg menurut kita benar. Hati = Saya =Ego. Contoh : tidak puasa = dosa . kita tidak bertanya kenapa orang tsb tidak berpuasa, Sakitkah, uzur atau pekerja keras. Kalimat mendosakan seseorang banyak pada ruangan ini, salah dan benar kumpul. Bid’ah, haram dan halal. Biasa terucap. Karena karat banyak dalam ruang ini maka hati kita cenderung menjadi mahluk yg benar. Lupa pada kenapa kita diciptakan.
“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Ku”
(QS. Adz-Dzariyat : 56).
Karena banyaknya karat maka kita harus sering membersihkannya caranya :
- Mulailah sholat jiwa dan raganya..sembahlah Allah dalam Sadar dan tidurmu
- Membaca Surah Alfatihah dengan benar ( Rahasia Al-Fatihah Insya Allah Nanti juga saya akan terangkan)
- Mulailah penuhi hatimu dengan Nur Ilahi, Dzikir
- Mulailah menata hati : tiada yg benar kecuali Allah Ta’ala
- Mulailah menjadi manusia apa adanya : ‘Laa Hawla wala quwwata illa billah’
- Hilangkan hakim dari diri kita karena Allahlah Hakim sesungguhnya
- Sabar dan Istiqomah senjata hati
- Seyum yang tulus senjata diri
Setelah langkah-langkah tersebut dijalankan Insya Allah pintu ke Ruangan ke dua (2) bisa kita lihat. Dan kita naiki.
- Ruangan Kedua (Hakikat)
Saya hanya mencoba menerangkan dengan keterbatas saya, karena saya pribadi belum masuk keruang ini masih ada dalam ruang Syariat. Mudah-mudahan ada yang bisa menerangkan ruangan ini secara detil saya sangat berterimakasih. Insya Allah saya coba :
Bismillahir Rahmanir Rahim Ruangan ini adalah kelanjutan dari ruangan pertama dan lebih kecil dari ruang ke satu. Kenapa, ?. karena jarang orang yang masuk keruangan ini, tapi banyak yg merasa sudah masuk ke ruangan ini. Mungkin karena tersesat dan atau disesatkan oleh Syetan, pihak ketiga, diri sendiri (Ego), Nafsu. Maka kita merasa sudah memasuki ruangan hakikat padahal mungkin di ruangan lain yang menyesatkan. Naudzubillah. Semoga Allah mengampuni kita semua.
Pada ruang hati kita yang kedua ini. Hanya yang bersih dan suci yang bisa masuk, ruangan ini diisi oleh rasa Tawadhu, Welas Asih, tidak mau mendahului Allah, rasa paling benar tidak ada, kalimat anda salah saya benar tidak ada, mulai mengerti arti dan rasa Laa Hawlaa Walaa Quwata ila billah. Mulai mengerti kenapa ada ayat Sajadah. Dan memahami Al Quran dan Hadist bukan dari bacaan tetapi dari Kalam. Mengerti Hakikat sebenarnya suatu perbuatan dan amalan. Mulai berkomunikasi dengan isyarat Allah. Dan melihat Allah dalam Ciptaan sesungguh-Nya.
Pada ruangan ini mulai kita mengetahui hamparan bumi terlihat lebih lapang, mudah semua urusan karena merasa tiada yg berarti semua urusan dan mulai mengerti ilmu Kalam. (Wallahu A’lam). Sehingga banyak yg tersesat di ruangan ini atau tidak mau beranjak dari ruangan ini atau karena senangnya dengan ruangan ini (karena mulai mengerti ilmunya Allah yg sangat luas) maka banyak yg bermain dan tergelincir keluar dari ruangan ini menuju keluar yaitu ruangan permainan. Sehingga ada istilah Majnun (menjadi gila) karena sulit atau bingung membedakan atau ke asyikan sendiri.
Ilmu hikmah berada pada ruangan ini. Karena sudah mendapat Kalam sehingga mengerti untuk apa suatu ayat di amalkan. Banyak yang mengamalkan amalan2 untuk mendapat karomah sehingga lupa pada ruangan ke 3 yaitu Makrifatullah. Padahal barang siapa yang sudah naik dan masuk ke Ruangan ke tiga Karomah itu hanyalah hiasan saja.
Cara-Cara Membersihkan Ruangan di Hati kita ini / Ruang Hakikat .
- Cara cara Ruangan Pertama tentu tetap dilaksanakan dan bahkan tambah dikuatkan, Sholat dan puasa malah makin Khusuk makin tawadhu.
- Mulai belajar menghilangkan saya dan menimbulkan Aku.
- Mulai melipat gandakan Ikhlas
- Cara tersendiri yang khusus yang hanya dia, Wali2 Allah dan Allah SWT yang Tahu. Yang hakikatnya sangat tipis sehingga Nabi Musa pun harus belajar pada Nabi Khidir. Batas Salah dan benar bukan di penglihatan Mata. Tapi di hati dan isyarat dari Allah SWT. Seperti Nabi Ibrahim AS. waktu mendapat perintah menyembelih Nabi Ismail AS. Isyarat masuk kedalam hati. Penglihatan bukan suatu hujah atau sandaran untuk keputusan. Insya Allah setelah tahapan ini maka atas izin Allah. Tersingkap Hijab pintu ke Tiga (3). Sehingga kita bisa naik ke tingkat ini. MAKRIFATULLAH.
Tahap 3. MAKRIFATULLAH
Berat sekali saya menerangkan tingkat ini karena makin tidak tahunya dan makin terbatasnya pengetahuan saya. Semoga Allah memafaatkan dan mengampuni saya karena mencoba dengan ilmu yang sedikit ini menuliskan MAKRIFATULLAH. (Allahhumaghfirlii / Ya Allah Ampuni saya) semata-mata saya menulis ini hanya bermaksud meng agungkan Engkau Ya Allah. Tiada maksud kesombangan apa pun karena Engkau lah semata-mata yang Berhak dengan Pakaian Kesombangan.
Bismillahir Rahmanir Rahim. Tingkat ini adalah tingkat tertinggi dari suatu bangunan Hati. Tingkat tertinggi seorang Mahluk dapat menemui sang Pencipta. Tanpa hijab atau penghalang apapun. Tingkatnya para Nabi, Wali-wali Allah. Tingkat tersembunyi. Bahkan jika ada yang tahu seorang Wali maka hanyalah Wali Allah juga. Karena mereka biasa bertemu dalam Alam Allah lainnya. (Wallahu A’lam). Jika orang umum tahu dia Wali maka biasanya dia akan pergi dan bersedih karena ke waliannya sudah diketahui oleh umum. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya. Bahkan akan meminta di angkat nyawanya karena sedihnya.
Pada Tingkat ini orang biasa tiada pengetahuan untuk medakwakan suatu masalah. Ada Wali yang seperti orang gila, Ada wali yang berdagang kecil-kecilan, Ada wali yang jadi penguasa, bahkan ada wali yang kita lihat seperti Penjahat. (Nabi Khidir membunuh anak kecil) Nalar kita hanya sebatas pandangan mata dan Al Quran sebagai bacaan bukan sebagai Kalam.
Pada tingkat ini Karomah atau ke ajaiban adalah hadiah Allah yg mereka tidak pinta atau mereka cari. Karomah adalah semata-mata karena Allah ridho dengan para Wali. Sehingga ucapannya adalah ucapan Allah.
Contoh, Sunan Ampel karena sedih melihat masjidnya kotor setelah seorang pengurusnya yg biasa membersihkan masjid wafat (Mbah Sholeh), maka terucap kata. Bila Mbah Sholeh hidup tentu akan bersih masjid ini..Tiba-tba Mbah Sholeh ada dan sedang Nyapu kembali. Begitu berulang kali sampai sembilan kali sampai kanjeng Sunan Ampel meninggal baru tidak hidup lagi. Itulah maka di sebal timur masjid Agung Sunan Ampel bisa dilihat ada Sembilan makam dengan Nama Yang Sama. Bisa dilihat saat ini. Allahu Akbar..
Pada tingkat ini Amalan-amalannya adalah Hanya Allah yang Tahu. Sedangkan Nabi Muhammad adalah satu-satu diatas Wali. Beliau berada di luar ruang satu dua dan tiga, Beliau berada di Sisi Allah. Karena tidak diciptakannya alam ini kecuali untuk Mu ya Muhammad. Semua ada karena Nur Muhammad yang Allah ciptakan. Hanya Allah yang tahu kedudukan Baginda Nabi. (Ya Nabi Salamu Alaik)
Salah = benar = hitam = putih tiada salah tiada yang benar tiada yang hitam tiada yang putih yang ada hanya Allah.
Sholat=dzikir = ingat=Pasrah=tiada daya=Aku kosong=Allah Isi ..Kosong=Isi pada Kasus Syeh lemah Abang Aku = Allah. Keinginan ku = keinginan Allah.
Pada tahap ini Manusia sudah bukan dengan kata kata biasa mengapresiasikannya. Kasus murid Syeh Siti Jenar yang mencari mati untuk bertemu Allah. mudah tergelincir kita sebagai manusia biasa untuk memahaminya. Sehingga saling menyalahkan dan saling membenarkan. Diam yang utama diam = kosong = isi = Allah. Laa Hawla Wala Quwata ila billah. Hanya Allah yang maja benar.
Kesimpulannya : Laksanakan Sholat sebenar-benarnya sholat. sholat jiwa dan raga sehingga akan membuka jalan menuju Makrifatullah. Senyum dan Salam adlh Islam. Dan saya takut terjadi perselisihan yang menjauhkan kita dari Rahmat Allah SWT. Yang benar dari Allah dan yang salah pasti dari saya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. @@

BADANKU DIDUNIA TAPI RUHKU ADA PADA GENGGAMAN-NYA

26 August 2010 at 17:08 | Posted in +PERPUSTAKAAN UTAMA+ | 48 Comments Wimans
santosoimanwahyu@yahoo.com
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Dan Salam untuk semua sedulur dan sesepuh di KWA ini.
Saya mencoba menjawab yg ditanyakan Sedulur bodokeremezken. dengan minimnya ilmu saya dan keterbatasan saya: Bismillah : Apa yang dimaksud dengan ;meskipun badanku didunia tpi ruhku ada pada genggamanya dan bagaimana cara memposisikanya?
Mengkaji ruh memang sedikit mendalam jika di kaji untuk mencari keberadaannya waktu hidup maupun setelah wafat maka kita memasuki hukum haram untuk sebagian ulama secara syariat : berdasarkan Al Quran : “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan kalian hanya diberi sedikit pengetahuan’.” – QS Al-Isra’ (17): 85.
tapi jika kita mengkaji bukan mencari keberadaan Ruh dikarenakan sebagai pendalaman menuju Makrifatullah maka akan menjadi boleh (Insya Allah…Wallahu alam)
“ Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. “ [QS Surat 39.ayat 42]
::Habib Syaikh bin Ahmad Al-Musawa, dalam karyanya berjudul Apa itu Ruh?, menyatakan, definisi ruh adalah, “ciptaan/makhluk yang termasuk salah satu dari urusan Allah Yang, Mahatinggi. Tiada hubungan antara ia dengan Allah kecuali ia hanyalah salah satu dari milik-Nya dan berada dalam ketaatan-Nya dan dalam genggaman (kekuasaan)-Nya.
Berkaitan yg sedulur tanyakan tadi maka secara otomatis disadari atau tidak memang hal itulah yg sebenar-benarnya terjadi bagi smua mahluk.. Bagi orang yg beriman demikianlah ketentuannya yg harus dijalani : Badan di dunia tapi ruh ku ada di gengamanNya… berlakulah sifat dari ” Laa Haw La walaa Quwata ilaa bilallah” sesungguhnya kita hidup ini adalah tidak punya daya..melihat karena Allah menghendaki kita melihat..bergerak karena Allah menghendaki kita bergerak…kita hanya Wayang…contoh umumnya kita ada janji tiba-tiba kita sakit…itu menandakan kita tidak mempunyai kuasa untuk badan kita..oleh karena itu pada Sholat kita yg pertama waktu bergerak adalah takbir..Allahhu Akbar..ini menunjukan bahkan pada sholat pun kita tetap kecil..sehingga Allah sangat melaknat orang yg sombongnya karena berarti ingin menjadi tandingannya..
Al-Ghazali, dalam Ihya’-nya, menyebutkan, kata-kata ruh, jiwa, akal, dan hati, sejatinya merujuk pada sesuatu yang sama, namun berbeda dalam ungkapan. Sesuatu ini, jika ditinjau dari segi kehidupan jasad, disebut ruh. Jika ditinjau dari segi syahwat, ia disebut jiwa. Jika ditinjau dari segi alat berpikir, ia disebut akal. Dan jika ditinjau dari segi ma’rifat (pengetahuan), ia disebut hati (qalb)/qalbu. Sehingga Syeh Siti Jenar berkata : bahwa kita ini sebenarnya Mati karena hidup yg sebenarnya adalah akhirat nanti..jika kita hubungkan dengan Al Quran sesuai dengan ayat diatas tadi..
Jadi kesimpulannya sudah seharusnya Manusia menyadari bahwa Badan di dunia tapi ruh ku ada di gengamanNya…mutlak sebagai hal yg dipahami..sehingga jika kita memeluk Agama Islam itu bukan suatu pilihan yg begitu saja terjadi tapi Hidayah Allah yg membuat kita menjadi Muslim. Demikian jawaban saya yg daif dan terbatas pengetahuannya.. Yang benar semata-mata datang dari Allah kalau salah pasti datang karna saya.
Wallahu alam.
Wassalamualaikum Wr. WB.

DZIKIR TELES DAN DZIKIR GARING

25 August 2010 at 11:13 | Posted in +PERPUSTAKAAN UTAMA+ | 51 Comments wahyu iman
iman.wahyu@yahoo.com
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bismillahir Rohmanir Rahim.
Saya hanya akan menambah apa yg sudah Gus Santri jelaskan.
Dzikir Teles dan Dzikir Garing.
1. Dzikir Teles / Basah : Adalah Dzikir yg membasahi lidah. banyak amalan dzikir i yg utama dan syariat contoh diberikan Rasul adalah. pada waktu sesudah Sholat..Tasbih, Tahmid, Takbir dan seutamanya dzikir adalah Tahlil..Laa Ilaa ha Illallah itu dengan hitungan 33 x :( Jumlah hitungan yg Rasul contohkan sesudah Sholat ini tidak baku ,maksud dari 33x agar para mukmin dan mukminin tidak menjadi berat dan atau tidak terlalu lama dan berlebihan berdzikir setelah sholat sehingga melupakan tugas yg nyata sebagai khalifah di bumi yaitu mencari nafkah dsb sesuai dengan banyak hadist diantaranya “bekerjalah utk urusan duniamu seakan engkau hidup selamanya dan beribadah kamu seakan engaku mati besok ” dll.
Hakikat dari dzikir teles itu banyak sekali:
a. (Subhaanallah) Membiasakan diri kita selalu mensucikan Allah dalam diri kita sehingga kita menjadi orang bersih hati menjadi orang ikhlas..tidak berburuk sangka pada ketentuan Allah. selalu tawadhu dan ini berkitan erat dengan sifat yg akan menjadi dasar kepasrahan yaitu La Hawla Walaa Quwata illa billah. dzikir ini tahap pertama untuk membuat hati kita bersih dan siap untuk dimasuki sifat-sifat Allah yg lain.(Asma Ul HUsna).
jika hati kita bersih maka tubuh dan jiwa kita bersih (segumpal darah /Hati) Al-Alaq. berkaitan erat dengan surah-surah Al Quran : Al Ikhlas, Al Qadr, An Nashr. An Naas
Tahap ini adalah tahap penting untuk menuju Makrifatullah : karena dengan mensucikan diri kita maka kita akan dapat menyamakan dan menangkap gelombang Ilahiah pada setiap ciptaan Nya : Melihat wujud kebesaran Allah pada Ciptaan Nya , mempertajam firasat batiniah kita thdp pertanda yg diberikan Allah pada Alam.
Tahap ini sebenarnya bukan di mulai pada tahap membaca dzikir Subhanallah tapi bersuci dari hadas besar dan kecil (Instinja): Insya Allah akan saya terangkan nanti // dan hadas batin. membiasakan dzikir ini akan berdampak besar pada tingkah laku sehari-hari.
b. Alhamdu Lillahi Robilalamin . dzikir ini adalah tahap selanjutnya setelah membersihkan hati maka dzikr ini berguna melapangkan hati..agar kita makin banyak menerima sifat-sifat Allah..terutama Rahman dan Rahim Allah. maka oleh Allah di firmankan :”Barang siapa bersyukur pada Ku maka anak Kutambah Nikmatnya (Rahman) barang siapa kufur maka Azab Ku sangat Pedih (Rahim)” jadi jika kita sering bersyukur maka Rahmat Allah (Nikmat) akan bertambah dan kitamakin di Kasihi (Rahim). untuk dzikir ini harus perlahan karena ada rahasia besar yg terkandung dalam Kalimat ini..karena Allah tidak sembarang untuk Rahman dan Rahimnya..jika Rahmat itu Universal tapi Rahim hanya pada orang-orang tertentu..(Insya Allah nanti akan saya terangkan karena berkaitan erat dengan pembacaan surat Al Fatihah). usahakan pada saat membaca ini dipisah.
Hadist :
Menurut keterangan Ummu Salamah Ummul mukminin RA. bahwa beliau pernah ditanya seseorng tentang bacaan shalat Rasulullah saw., maka beliau menjelaskan: Rasulullah SAW. membaca satu ayat demi satu ayat dengan terputus putus:
(HR.Abdu Daud&Ahmad dll) bagi siapa yg sering mengucap kalimat ini Inysa Allah akan banyak nikmat yg akan Allah berikan dan ini Janji Allah.
Dzikir ini berkaitan erat dengan surat Al Kautsar, At Takatsur.
c. Allahhu Akbar dzikir ini adalah pintu masuk menyambut sifat-sifat Allah untuk masuk kedalam hati manusia. setelah di bersihkan dilapangkan maka di bukakan pintunya dalam hati manusia : oleh karena itu hati kita menyambut sifat sifat Allah yg mewujud masuk kedalam hati kita dengan menyambut kebesaran Tuhan yg akan bersemayam dalam hati kita : sama seperti kita dalam sholat ketika bertakbir ” Allahu Akbar” hati kita menyambut dengan penuh keriangan kedatangan Dzat pemilik sejati tubuh kita..Dzat pemilik alam kecil tubuh kita, sebenar-benarnya pemilik tubuh kita. hingga Syeh Siti Jenar pun merasa Manunggal. karena hatinya sudah di isi oleh yg Pemilik Sejati tubuh.
Allahhu Akbar sebenarnya kita akan merasakan benar-benar Wujud Allah seperti dalam Hadist “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.”
4. Fadholi Dzikri : Laa Ilaa ha Ilallah Dzikir yang utama : ketiga dzikir diatas tadi tidak akan berfaedah dalam hati kita atau tidak ada pahala manfaat di dunia dan akherat jika kita tidak meyakini Kalimat Tauhid utama mahluk ciptaan Nya… La Ilaa ha Ilallah adalah sumber dari segala sumber apapun. sumber ketakwaan manusia kepada Tuhannya. tiada kalimat di Alam ini yg se agung Kalimat Tauhid..hanya kalimat ciptaan Nya lah yg Mulia yg dapat di persandingkannya : Muhammaddur Rasulullah. Tauhid adalah pembuat wadah hati kita sebelum dibersihkan,dilapangkan dan dibuat pintu maka dibuat dulu wadahnya..karena Allahlah kita menjadi ada..maka dzikir ke tiga diatas tidak berfungsi jika kita syirik. menduakan atas Ke Tuhanan dari Allah.
Dzikir diatas tadi adalah dzikir Jahar/ keras / basah lidah yg akan bermanfaat kedalam kehidupan kita. Jumlah bilangan diluar setelah sholat ada juga yg berbeda-beda hanya yg dicontohkan secara umum 33x. untuk sebagian tarekat jumlah berbeda-beda tergantung sanad daro Mursyid yg diterima waktu di bai’at.
2. Dzikir kering / Syir / sembunyi/ dalam hati.
dzikir basah tidak dapat dilakukan di sembarang tempat seperti tempat kotor WC dsb..tetapi ada tempat yg selalu bersih…yaitu Qolbu..(Qolbu Salim) dzikir ini dapat nermacam-macam bergantung apa yg telah menjadi kebiasaan dan atau yg diperintahkan oleh Mursyidnya dengan sanad yg jelas berakhir kepada Baginda Rasul. yg umum biasanya melantunkan Allah..Allah..Allah…
Kebiasaan dzikir kering akan membawa kita dalam nafas kita menjadi Allah…Allah…Ha..ha…ha (desah nafas) yang ber arti Hayat…Hayun…atau hidup…yang memberi kehidupan..maka dari itu jadikanlah desah nafas kita dzikir kepada Allah niscaya kita akan selamat Dunia wal Akhirat…Amin..
Wallahu Alam / Hanya Allah yg tahu.. Maafkan saya yg bodoh dan daif ini.
Amin Ya Rabbal Alamin
Wimans

TEMBUS TOGEL DENGAN ILMU MATA DEWA (AJIAN NETRA BENGGALA)

30 July 2010 at 10:33 | Posted in +PERPUSTAKAAN UTAMA+ | 25 Comments AKU ORANG SESAT
Siti.jenar@plasa.com
202.3.213.130
untuk saudara semua mohon izin untuk memaparkan ilmu tembus togel aji netra benggala, amalan ini tidak untuk di ijazahkan tetapi hanya untuk menambah khasanah ilmu gaib aliran hitam bagi yang sudah kepepet dan tidak ada jalan lain. Ritual ilmu ini menyesuaikan dengan weton lahir anda. Contoh anda lahir sabtu kliwon 17 april 1975, maka harus di hitung dulu neptu anda. Setelah ketemu pasaran nya misal neptu nya 12 maka jatuh pada rabu kliwon 02 mei 2010. Maka di tanggal itulah anda harus melakukan ritual aji netra benggala. Dengan cara sediakan 3 kertas putih polos dan darah ayam cemani serta madat atau candhu dan buhur sulthon. Malam hari nya tepat jam 12 malam anda ritual di tempat yang angker. Boleh di bawah pohon besar atau di makam keramat, setelah membakar candu dan menyiapkan sarana ritual anda baca mantra ini 99x. Berikut ini penggalan mantra nya: “AKI DANYANG NINI DANYANG SAKNIKI KULO SUGUH SEKUL GONDO ARUM INGKANG PANYOLOWATI… dst, setelah selesai taruhlah 3 lembar kertas putih dan mangkuk yang berisi ayam cemani di atas nya, setelah itu anda tinggal pergi selama 2 jam, setelah kembali maka di salah satu kertas tersebut akan ada goresan angka dari darah ayam cemani, biasa nya 3 angka. Ritual ini pernah 1x saya praktekan di pinggir kali ciliwung dan tembus 3 angka, saya pasang 100ribu, dapat 33jt. Tingkat keberhasilan 90%, itulah salah satu ritual aji netra benggala tembus togel. Mohon maaf jika ada yg tidak suka, saya memang orang sesat. Terima kasih. @@@

MENGURAI HIKMAH DUA PERANG

10 June 2010 at 20:24 | Posted in PERANG GHOIB | 105 Comments

Assalamualaikum wr wb, Sedulurku semua: Kita telah selesai melaksanakan satu hajat agung melawan musuh-musuh yang secara jelas dan nyata melakukan tindakan keji dan biadab. Musuh tersebut kini telah kita serang sebanyak dua kali yaitu momentum yang kita sebut Perang Ghoib I dan Perang Ghoib II. Apa dan bagaimana hasil Perang Ghoib yang telah kita lakukan secara serentak tersebut?
Hanya Allah yang Maha Tahu karena sesungguhnya, manusia hanya mampu berusaha dan berikhtiar dan selebihnya kita pasrah dan ikhlaskan apapun keputusan pada-NYA. Tapi kita semua yakin bahwa keputusan NYA adalah yang paling baik.Barangkali, kita telah melakukan sebuah tugas mulia yang tidak pernah sekalipun tercatat dalam sejarah dunia dan sejarah nasional. Tapi, saya yakin bahwa upaya kita inilah SATU-SATUNYA upaya yang ada di dunia dimana sebanyak ratusan bahkan mungkin ribuan orang pengakses internet melakukan sebuah perlawanan dengan cara yang unik: menggunakan amalan-amalan untuk melakukan penyerangan secara ghoib dengan sasaran yang fokus dan jelas. Ingat pengunjung blog ini mencapai belasan ribu orang perhari. Di jaman modern yang serba egois dan pragmatis seperti sekarang, rasa-rasanya masih saja ada mereka yang dengan sukarela melakukan sebuah usaha yang diyakini merupakan sebuah usaha yang mulia, yang nantinya akan menghantarkan kita semua menjadi mereka yang tercatat sebagai mujahid dan pahlawan yang gigih membela keyakinan. Allahu Akbar… ya, inilah sebuah bentuk kebangkitan rohani baru melawan kedzaliman dan kemunkaran dengan cara yang khas yaitu mempelajari dan mempraktekkan ILMU-ILMU KEDIGDAYAAN.Kalau selama ini ada yang menuduh komunitas blog Kampus Wong Alus ini termasuk sesat dan musyrik, menyimpang dari ajaran agama, maka dua Perang Ghoib inilah kita menyangkal tuduhan itu. Bagi yang sudah memasuki aras hakikat dan makrifat, sesat dan musyrik adalah perkara yang mudah untuk ditelisik. Semudah membedakan mana kuda jantan dan mana kuda betina. Yaitu saat hati nurani/rahsa sejati kita bertentangan dengan kelakuan-kelakuan kita. Itulah saat seseorang itu disebut sesat. Sebuah kesesatan sejati yang sesungguhnya sulit untuk dimaafkan secara sosial, moral dan mental. Dua Perang Ghoib ini juga menjadi jawaban bahwa Ilmu-Ilmu Kedigdayaan yang konon adalah ilmu yang cocok hanya untuk kaum muda ternyata juga masih cocok dimiliki untuk kaum yang sudah dewasa dan tua. Ilmu-ilmu muda telah kita ‘sepuh’ sehingga semakin ‘utuh’ dan ‘tangguh’ untuk meniti jalur menuju Ilahi—sebuah kodrat ruh, jiwa dan raga manusia menggapai kesempurnaan dan kemanunggalan.
Banyak orang terjebak dalam menilai sesuatu. Kita digiring kepada persoalan yang sempit. Kerohanian tidak banyak dikenal orang Islam lantaran takut sesat seperti Syekh Mansyur Al Hallaj atau Syekh Siti Jenar yang terkenal dengan ajaran wihdatul wujud atau manunggaling kawula gusti. Dua orang yang dianggap sesat, menghalangi kita untuk belajar lebih dalam ilmu hakikat. Padahal berapa ribu ulama yang tidak sesat dalam belajar menghayati ruhiyah Islamiyah seperti Hujjatul Islam Imam Al Ghazaly, Imam Annafiri, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, para sahabat rasul, serta Sunan bonang, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Kali Jaga dan seterusnya yang hidup dengan ruhiyah Islamiyah. Tapi mengapa kita hanya mempersoalkan kesesatan dua tokoh tersebut. Kenapa kita tidak melihat ulama yang tidak sesat seperti yang disebutkan tadi. Ada sentimen apa sehingga begitu gencarnya mengekspos sesat dan bid’ah terhadap yang sungguh-sungguh dalam bermujahadah kepada Allah yang Maha Ghaib….dan mengatakan belajar ilmu hakikat ini divonis haram. Dan yang perlu kita catat, kesesatan itu tidak hanya pada ilmu kerohanian saja. ilmu fiqih, ilmu ekonomi, ilmu akuntansi dan ilmu komputer, atau ilmu apa saja dapat dibawa menuju kesesatan. Kenapa anda tidak pernah takut untuk belajar ilmu akuntansi, padahal dengan ilmu ini orang bisa menggunakannya untuk korupsi (maling) juga ilmu yang lainnya. Semoga kita tidak terpengaruh oleh pendapat sempit yang ia tidak pernah memasuki atau menghayati kedalaman Islam secara menghujam hingga ke lubuk hati.
Akibatnya kita menjadi korban atas pemberitaan yang tidak seimbang. Islam yang kita lakukan sekarang menjadi setengah hati, tidak sampai menghunjam ke dalam akar iman yang sebenarnya. Kita tidak pernah lagi mendengar suara hati kita terharu ketika berhadapan dengan Allah. Apakah hati kita berguncang keras tatkala asma Allah disebutkan berkali-kali? Saya yakin tidak. Hati kita sekarang menjadi keras seperti batu… Hanya sesekali kita bisa menangis saat berada di keheningan malam untuk tahajud. Selebihnya, saat kita mendengar adzan berkumandang kita kadang malah merasa seperti dikejar-kejar waktu….
Saudaraku yang disinari cahaya Allah: Saya secara pribadi tidak mampu lagi menyebutkan siapa-siapa saja yang telah berjasa dan telah berdarah-darah dalam dua Perang Ghaib ini. Ratusan bahkan ribuan pendekar-pendekar pilih tanding di seantero jagad maya yang selama ini berkunjung di Kampus Wong Alus secara serentak mempraktekkan ilmu-ilmu kedigdayaan tingkat tinggi untuk melakukan penyerangan lintas negara, bahkan lintas benua. Barangkali, bagi kita, menyebutkan nama sosok yang berjasa tidaklah terlalu penting. Bahkan mungkin akan membuat diri kita menjadi ujub, membanggakan diri dan lainnya. Bukankah telah berbuat baik dan mulia tidak perlu terlalu diingat-ingat? Dan bila kita berbuat salah justeru harus banyak diingat sehingga kita bisa awas, eling dan waspada agar tidak mengulangi lagi perbuatan yang salah tersebut. Inilah prinsip kepahlawanan seorang pejuang dan pahlawan sejati. Pejuang dan pahlawan yang tanpa pamrih tidak akan menuntut dirinya dikuburkan di taman-taman pahlawan dan ditaburi bunga, dihormati dan disanjung oleh orang lain. Pejuang sejati tidak akan pernah suka difoto, dikerubuti wartawan untuk diwawancara karena dirinya bukan selebritis dan artis. Prajurit sejati adalah mereka yang diam-diam mengangkat senjata manakala ada perintah dari komandan untuk bergerak menyerang musuh. Komandan sejati adalah hati nurani kita masing-masing sementara musuh kita adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain. Kalau kita memegang prinsip futuwwah/kepahlawanan semacam ini rasa-rasanya dunia akan adem dan teduh. Tidak perlu ada perang terbuka yang berujung pada saling bunuh dan saling serang.. sebuah sarkasme dan kekerasan kemanusiaan yang tidak akan pernah bisa diterima oleh akal sehat dan nurani yang bening.
Sadar atau tidak, kita telah mempertontonkan pada dunia dan mungkin juga memberi pembelajaran kepada dunia, kepada pemerintah, kepada lingkungan di sekitar kita bahwa kita mampu melawan bentuk-bentuk penindasan yang mencederai hati nurani banyak orang dengan cara yang santun namun dahsyat; BERDOA. Doa adalah sebuah upaya paling sejati pada diri manusia sebagai bentuk permohonan pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Doa adalah sebuah penghambaan dan pengakuan bahwa sesungguhnya kita ini adalah makhluk yang lemah dihadapan kuasa Ilahi. Doa tidak hanya bermakna meminta dan memohon namun juga menyodorkan sebuah fakta yang kita yakini sehingga Tuhan –sebagai Dzat tempat kita menyandarkan permohonan itu— berkenan untuk mengijabahinya segera dan memberikan karomah-NYA. Ini tampak dalam mantra-mantra hizib dan asma yang dari susunan kata dan kalimatnya seakan ‘memaksa’ Tuhan untuk mengabulkan permohonan kita. Namun sebenarnya tidaklah arif bila kita katakan kita sedang ‘memaksa’ Tuhan, yang arif adalah kita sedang melakukan negosiasi tingkat tinggi agar Tuhan berkenan memberikan apa yang kita minta dengan kode dan rumus-rumus keilahian yang sulit dicerna dengan akal orang yang awam. Rumus amalan itu adalah kesimpulan yang ditemukan oleh para guru-guru sakti di masa silam setelah diuji coba berulangkali dan hasilnya selalu sama.
Sedulurku yang dimuliakan Allah SWT: Apa dan bagaimana sebenarnya bentuk narasi dan deskripsi dari Perang Ghoib? Disini saya tegaskan bahwa perang ghoib sebenarnya tidaklah sama dengan gambaran yang ada di benak kita seperti pertempuran yang ada di sinetron-sinetron dan film-film kolosal. Pertempuran secara ghoib yang digambar-gambarkan para sesepuh sebenarnya hanya bentuk penyederhanaan bahasa dan representasi dari bayangan imajiner yang ada di dalam masing-masing individu yang sesungguhnya tidak sama persis dengan fakta di alam ghoib. Fakta di alam ghoib sesungguhnya tidak pernah diketahui dengan pasti karena sifatnya kebenarannya tidak pernah obyektif dan bisa dijelaskan secara terbuka. Bukan ghoib –samar-samar/tersembunyi — lagi namanya bila fakta itu sama persis dengan yang bisa dilihat dengan kepala dan mata kita. Lha wong fakta yang bisa dilihat secara jelas saja pada akhirnya memunculkan persepsi yang tidak sama, apalagi perang ghoib?
Maka bolehlah dikatakan bahwa perang ghoib sesungguhnya adalah perang kekuatan mental, ruhani, spiritual dan imajinasi masing-masing individu untuk mewujudkan keinginan. Rumusnya: bahwa YANG ADA itu asalnya dari KEHENDAK/KEINGINAN – yang asalnya dari IDE YANG ABSTRAK. Ide abstrak ini terbangun dari sebuah keterpaduan antara diri kita dengan diri sejati kita (ingsun sejati) berdasarkan atas metafisika kesatuan dan kemanunggalan. Kunci agar bisa terpadu adalah sebuah pola yang disebut NGESTI—yaitu membangun kekuatan abstrak di dalam diri untuk membuka fakta baru yang belum pernah ada sebelumnya. NGESTI inilah kunci kesaktian ilmu sejati. Bila syariat awalnya Perang ghoib adalah perang melawan zionisme Israel, maka Perang Ghoib Sejati adalah perang melawan zionisme diri kita sendiri, jiwa yang lemah dan cenderung egois, diri yang cenderung ingin berkuasa di atas penderitaan orang lain dan seterusnya sehingga akhirnya DIRI KITA menjadi MENANG MELAWAN MUSUH yang tak lain adalah diri kita sendiri. Kita akan menjadi diri yang altruistik yang rela berkorban untuk menolong mereka yang lemah, menderita dan terpinggirkan. Diri yang berbebaskan dan tercerahkan sehingga dia dengan mudah menanggalkan “aku”-nya untuk kemudian diri yang sudah bersih dan bening itu memantulkan sifat, asma dan af’al-NYA hingga tangan, kaki dan mulut kita adalah tangan, kaki dan mulut-NYA…. Inilah JIHAD AKBAR!
Ketahuilah bahwa jiwa adalah musuh dengan wajah seorang teman. Kekejaman dan daya tipunya tidak ada habisnya. Menolak kejahatannya dan menaklukkannya merupakan tugas yang paling penting, karena jiwa adalah musuh yang paling buruk, lebih buruk dari setan dan kaum kafir. Untuk melatih jiwa dan membawanya kembali kepada keadaan yang sejahtera dan membuatnya meningkat dari sifat menguasai kejahatan menuju tingkat berdamai dengan Allah merupakan tugas besar. Puncak kebahagiaan manusia terletak pada penyucian jiwa. Sementara puncak kesengsaraan manusia terletak pada tindakan membiarkan jiwa mengalir sesuai dengan tabiat alamiah. Itulah sebabnya Allah befirman: “Demi jiwa dan Dia yang menyempurnakannya dan memperkenalkannya kepadanya keburukannya dan kebaikannya. Sungguh beruntung orang yang dapat mensucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorkannya”
Alasannya karena penyucian jiwa dan latihan jiwa mengakibatkan dikenalnya jiwa, dan pengenalan jiwa menimbulkan pengetahuan akan Tuhan, sebab barang siapa yang mengenal jiwanya sendiri akan mengenal Tuhannya. Pembersihan dari kotoran yang melekat pada jiwa, adalah salah satu fokus dari Perang Ghoib yang telah kita laksanakan. Usai perang berlangsung, terasa bagaimana rasanya hati kita menjadi bening dan nyaman. Jiwa menjadi tenang dan akan mendapat sapaan Allah seperti dalam ayat-Nya… “Wahai jiwa yang tenang datanglah kehadirat Tuhanmu dengan keadaan ridho dan diridhoi”. Jiwa yang seperti inilah yang kita tuju yaitu perjuangan yang sungguh-sungguh membawa pengorbanan lahir dan batin.
Saudaraku semua yang disayangi Allah: Perang Ghoib yang telah kita lakukan ini sekaligus sebagai praktek dari pembelajaran teoritis ilmu-ilmu Ghoib warisan leluhur nusantara yang diajarkan oleh para sesepuh. Kita menjadi tahu bagaimana tata cara dan memfungsikan amalan secara nyata sehingga nantinya diharapkan kita bisa mahir menggunakan amalan yang telah kita pelajari. Namun saya ingin berpesan bahwa mengamalkan ILMU-ILMU KEDIGDAYAAN itu hakikatnya membutuhkan NGESTI atau kekhusyukan. Ini yang biasanya terlupakan saat kita mengamalkan sebuah amalan. Padahal ‘khusyuk’ adalah syarat mutlak apabila kita ingin mengamalkan ilmu-ilmu ghoib.
Khusyuk sesungguhnya adalah menyerahkan lugu dan polosnya diri ini sesuai dengan keadaan hati kita, tidak perlu tedeng aling-aling dihadapan Allah. Cukup diam dengan rasa rendah hati, dan menjaga kesopanan di hadapan Allah, serta merasakan bahwa Allah sedang berada sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Lantunkan mantra-mantra dengan sebagaimana anda memanggil Asma-Nya yang baik-baik misalnya “Ya Allah” berulang-ulang dengan menghadirkan hati serta kerinduan yang dalam. Hal tersebut selalu harus terus anda lakukan setiap habis melakukan shalat. Kemudian kalau ada kesempatan waktu lakukanlah dialog-dialog dimana saja berada karena Allah ada dimana saja anda berada.
Inilah yang fokus, obyek orientasi keilmuan yang benar. Jangan menghadirkan khodam-khodam yang aneh-aneh saat anda membaca mantra ilmu-ilmu ghoib. Tidak perlu! Yang diperlukan adalah menghadirkan Allah dan memohon keridhoan-NYA agar DIA memberikan karomah sebuah ilmu. Jadi nanti terserah Allah SWT saja, apakah jenis ‘khodam’ yang diberikan-NYA untuk kita….
Saat melantunkan sebuah doa/mantra sebaiknya berbekal aturan yang ditetapkan, karena pada hakikatnya kita ini selalu berhadap-hadapan dengan AKU SEJATI/INGSUN SEJATI yang merupakan pancaran atau emanasi Ilahi. Kita tidak perlu membayangkan seorang mursyid karena sesungguhnya AKU SEJATI itu adalah Allah SWT yang tidak bisa digambarkan laki-laki dan juga juga bukan wanita. DIRI SEJATI KITA tidak bisa dibayangkan dan disamakan tubuh kita. Maka baiknya, bila kita akan memulai mengamalkan sebuah hizib/asma/ajian mulailah setiap kali dengan didahului membaca :
BISMILAHIRRAHMANIRRAHIM.
DUA KALIMAT SYAHADAT
SHALAWAT KEPADA RASULULLAH,
MENGIRIMKAN AL FATIHAH DAN SETERUSNYA…
Mengamalkan ilmu ghoib berarti menghubungkan hati kita, perasaan kita, dan coba timbulkan rasa rindu dan cinta kepada Allah, panggil Asma-Nya berulang-ulang (sesuai hitungan jumlah doa misalnya 1000 x, dst) dengan suara hati yang dalam dan lakukan dengan sungguh-sungguh sehingga terasa ada sambutan yang menyeruak dalam kalbu kita. Rasakan kedamaian dan keheningan yang sejuk di dada dan kuatkan hati kita tetap berpegang kepada tauhid hanya Allah tujuan kita, hunjamkan sampai kedalam lubuk hati yang dalam sehingga akan ada bimbingan di dalam hati kita untuk selalu ingat Allah hati kita akan bergerak terus seakan-akan tidak mau diajak untuk berhenti.
Tubuh akan semakin ringan dan pasrah, hati menjadi lebih tenang dan rasanya sejuk dan nyaman yang akan mengakibatkan hati menjadi lunak dan mudah terkendali. Keadaan tubuh kadang terasa semakin berat karena getaran jiwa semakin kuat dan kadang emosi semakin tidak bisa dibendung, rasanya ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan rasa kerinduan yang dalam kepada Allah. Saat itulah kita pasrahkan seluruh jiwa raga kita dengan ikhlash sehingga Allah akan berkehendak membimbing hidup kita, hati kita untuk bersabar menerima karomah-karomahnya yang luar biasa. Inilah fase awal pertempuran ghoib yang sesungguhnya….Selanjutnya, silahkan bagi para sedulur/saudaraku semua yang telah berjuang di jalan Ilahi dengan mengikuti Perang Ghoib ini untuk menceriterakan pengalaman-pengalamannya. Tentu saja sangat kaya oleh hikmah-hikmah terselubung yang ada di dalamnya. SALAM PERJUANGAN; ALLAHU AKBAR!!! Wassalamualaiku wr wb.
11 Juni 2010, 03.00 WIB

@wongalus,2010

SHOLAWAT SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI

21 May 2010 at 16:38 | Posted in SHOLAWAT SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI | 68 Comments

Sebagai rasa terima kasih saya kepada Para sedulurku semua, Para Pinisepuh serta Pembaca Kampus Wong Alus yang telah berkenan mampir di gubuk reyot ini –sehingga statistik blog mencapai angka 1000.000 (Satu Juta) pembaca sejak April 2009 — maka dengan ini:

Pada hari ini, Sabtu 22 Mei 2010 pukul 00.00 WIB, saya ijazahkan SHOLAWAT SYEKH ABDUL QADIR AL JAILANI kepada para pembaca Kampus Wong Alus yang budiman dimanapun anda berada yang ingin mengamalkan…

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM. ALLAHUMMA SHALLI ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIS SABIQI LILKHALQI NUURUH. WAROHMATULIL ALAMIINA DZUHUURUH. ADADAMAN MADHOO MINKHALQIKA WA MAN BAQIYA WA MAN SAIDA MINHUM WA MAN SYAQIYA. SHOLATAN TASTAGHRIQUL ADDA WATAKHIIDU BILKHOLDII SHOLAATAL LA GHOYATALAHA. “Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Sayyidina Muhammad yang cahayanya telah mendahului penciptaan makhluk, dan kemunculannya merupakan rahmat bagi semesta alam, sebanyak jumlah makhluk-MU yang lalu maupun yang akan datang serta yang berbahagia di antara mereka maupun yang celaka, dengan sholawat yang menghabiskan segala hitungan dan meliputi segala batasan, dengan sholawat yang tidak akan habis, berakhir dan selesai”

(Hapalkan dan baca usai sholat fardhu dengan jumlah ganjil, misalnya 3 x, 7 x, 9 x dst)

Sholawat ini untuk 1001 macam hajat keperluan(keamanan/keselamatan, ketaqwaan/keimanan, karomah/kesaktian dll) dengan cara baca 3 x dan tiupkan ke telapak tangan lalu usapkan ke seluruh tubuh kita. Saat yang darurat, genting dan berbahaya dibaca sebanyak-banyaknya dengan niat memohon pertolongan Allah SWT.

wongalus@2010

CARA RADEN SYAHID MENCARI GURU SEJATI

4 January 2010 at 15:30 | Posted in SUNAN KALIJAGA MENCARI GURU SEJATI | 18 Comments
Di antara para wali yang lain, Kanjeng Sunan Kalijaga bisa dikatakan satu-satunya wali yang menggunakan pendekatan yang pas yaitu budaya Jawa. Dia sadar, tidak mungkin menggunakan budaya lain untuk menyampaikan ajaran sangkan paraning dumadi secara tepat. Budaya arab tidak cocok diterapkan di Jawa karena manusia Jawa sudah hidup sekian ratus tahun dengan budayanya yang sudah mendarah daging. Bahkan, setelah “dilantik” menjadi wali, dia mengganti jubahnya dengan pakaian Jawa memakai blangkon atau udeng.

Nama mudanya Raden Syahid, putra adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta dan Dewi Nawangrum. Kadpiaten Tuban sebagaimana Kadipaten yang lain harus tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nama lain Tumenggung Wilatikta adalah Ario Tejo IV, keturunan Ario Tejo III, II dan I. Arti Tejo I adalah putra Ario Adikoro atau Ronggolawe, salah seorang pendiri Kerajaan Majapahit. Jadi bila ditarik dari silsilah ini, Raden Syahid sebenarnya adalah anak turun pendiri kerajaan Majapahit.

Raden Syahid lahir di Tuban saat Majapahit mengalami kemunduran karena kebijakan yang salah kaprah, pajak dan upeti dari masing-masing kadipaten yang harus disetor ke Kerajaan Majapahit sangat besar sehingga membuat miskin rakyat jelata. Suatu ketika, Tuban dilanda kemarau panjang, rakyat hidup semakin sengsara hingga suatu hari Raden Syahid bertanya ke ayahnya: “Bapa, kenapa rakyat kadipaten Tuban semakin sengsara ini dibuat lebih menderita oleh Majapahit?”. Sang ayah tentu saja diam sambil membenarkan pertanyaan anaknya yang kritis ini.

Raden Syahid yang melihat nasib rakyatnya merana, terpanggil untuk berjuang dengan caranya sendiri. Cara yang khas anak muda yang penuh semangat juang namun belum diakui eksistensinya; menjadi “Maling Cluring”, yaitu pencuri yang baik karena hasil curiannya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang menderita. Tidak hanya mencuri, melainkan juga merampok orang-orang kaya dan kaum bangsawan yang hidupnya berkecukupan.

Suatu ketika, perbuatan mulia namun tidak lazim itu diketahui oleh sang ayah dan sang ayah tanpa ampun mengusir Raden Syahid karena dianggap mencoreng moreng kehormatan keluarga adipati. Pengusiran tidak hanya dilakukan sekali namun beberapa kali. Saat diusir Raden Syahid kembali melakukan perampokan namun sialnya dia tertangkap pengawal kadipaten hingga sang ayah kehabisan akal sehat. “Syahid anakku, kini sudah waktunya kamu memilih, kau yang suka merampok itu pergi dari wilayah Tuban atau kau harus tewas di tangan anak buahku”. Syahid tahu dia saat itu harus benar-benar pergi dari wilayah Tuban dan akhirnya, dia pun dengan hati gundah pergi tanpa arah tujuan yang jelas. Suatu hari dalam perjalanannya di hutan Jati Wangi, dia bertemu lelaki tua yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Sunan Bonang. Sunan Bonang adalah putra dan murid Sunan Ampel yang berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.

Syahid yang ingin merampok Sunan Bonang akhirnya harus bertekuk lutut dan Syahid akhirnya berguru pada Sunan Bonang. Oleh Bonang yang saat itu sudah jadi guru spiritual ini, Syahid diminta duduk diam bersila di pinggir sungai. Posisi duduk diam meneng ini di kalangan para yogi dikenal dengan posisi meditasi. Syahid saat itu telah bertekad untuk mengubah orientasi hidupnya secara total seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya dia berjuang dalam bentuk fisik, menjadi perjuangan dalam bentuk batin (metafisik). Dia telah meninggalkan syariat masuk ke ruang hakekat untuk mereguk nikmatnya makrifat. Namun syarat yang diajarkan Sunan Bonang cuma satu: duduk, diam, meneng, mengalahkan diri/ego dan patuh pada sang guru sejati (kesadaran ruh). Untuk menghidupkan kesadaran guru sejati (ruh) yang sekian lama terkubur dan tertimbun nafsu dan ego ini, Bonang menguji tekad Raden Syahid dengan menyuruhnya untuk diam di pinggir kali.

Ya, perintahnya hanya diminta untuk diam tok, tidak diminta untuk dzikir atau ritual apapun. Cukup diam atau meneng di tempat. Dia tidak diminta memikirkan tentang Tuhan, atau Dzat Yang Adikodrati yang menguasai alam semesta. Tidak, Sunan Bonang hanya meminta agar sang murid untuk patuh, yaitu DIAM, MENENG, HENING, PASRAH, SUMARAH, SUMELEH. Awalnya, orang diam pikirannya kemana-mana. Namun sekian waktu diam di tempat, akal dan keinginannya akhirnya melemas dan akhirnya benar-benar tidak memiliki daya lagi untuk berpikir, energi keinginan duniawinya lepas landas dan lenyap. Raden Syahir mengalami suwung total, fana total karena telah hilang sang diri/ego.

“BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA, KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH, LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH….”

Demikian gambaran kesadaran ruh Raden Syahid kala itu. Berapa lama Raden Syahid diam di pinggir sungai? Tidak ada catatan sejarah yang pasti. Namun dalam salah satu hikayat dipaparkan bahwa sang sunan bertapa hingga rerumputan menutupi tubuhnya selama lima tahu. Setelah dianggap selesai mengalami penyucian diri dengan bangunnya kesadaran ruh, Sunan Bonang menggembleng muridnya dengan kawruh ilmu-ilmu agama. Dianjurkan juga oleh Bonang agar Raden Syahid berguru ke para wali yang sepuh yaitu Sunan Ampel di Surabaya dan Sunan Giri di Gresik. Raden Syahid yang kemudian disebut Sunan Kalijaga ini menggantikan Syekh Subakir gigih berdakwah hingga Semenanjung Malaya hingga Thailand sehingga dia juga diberi gelar Syekh Malaya.

Malaya berasal dari kata ma-laya yang artinya mematikan diri. Jadi orang yang telah mengalami “mati sajroning urip” atau orang yang telah berhasil mematikan diri/ego hingga mampu menghidupkan diri-sejati yang merupakan guru sejati-NYA. Sebab tanpa berhasil mematikan diri, manusia hanya hidup di dunia fatamorgana, dunia apus-apus, dunia kulit. Dia tidak mampu untuk masuk ke dunia isi, dan menyelam di lautan hakikat dan sampai di palung makrifatullah.

Salah satu ajaran Sunan Kalijaga yang didapat dari guru spiritualnya, Sunan Bonang, adalah ajaran hakikat shalat sebagaimana yang ada di dalam SULUK WUJIL: UTAMANING SARIRA PUNIKI, ANGRAWUHANA JATINING SALAT, SEMBAH LAWAN PUJINE, JATINING SALAT IKU, DUDU NGISA TUWIN MAGERIB, SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT, PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAM DAIM, INGARAN TATA KRAMA. (Unggulnya diri itu mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).

Di sini, kita tahu bahwa salat sejati adalah tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan sholat lima waktu. Salat sejati adalah SALAT DAIM, yaitu bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA ALLAH. Hu saat menarik nafas dan Allah saat mengeluarkan nafas. Sebagaimana yang ada di dalam Suluk Wujil: PANGABEKTINE INGKANG UTAMI, NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA, PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU, SASOLAHE RAGANIREKI, TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN, TINJA TURAS DADI SEMBAH, IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN. (Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir)

Jadi hakikat yang disebut Sholat Daim nafas kehidupan yang telah manunggaling kawulo lan gusti, yang manifestasinya adalah semua tingkah laku dan perilaku manusia yang diniatkan untuk menyembah-Nya. Selalu awas, eling dan waspada bahwa apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita kehendaki, apapun yang kita lakukan ini adalah bentuk yang dintuntun oleh AKU SEJATI, GURU SEJATI YANG SELALU MENYUARAKAN KESADARAN HOLISTIK BAHWA DIRI KITA INI ADALAH DIRI-NYA, ADA KITA INI ADALAH ADA-NYA, KITA TIDAK ADA, HANYA DIA YANG ADA.

Sholat daim ini juga disebut dalam SULUK LING LUNG karya Sunan Kalijaga: SALAT DAIM TAN KALAWAN, MET TOYA WULU KADASI, SALAT BATIN SEBENERE, MANGAN TURU SAHWAT NGISING. (Jadi sholat daim itu tanpa menggunakan syariat wudhu untuk menghilangkan hadats atau kotoran. Sebab kotoran yang sebenarnya tidak hanya kotoran badan melainkan kotoran batin. Salat daim boleh dilakukan saat apapun, misalnya makan, tidur, bersenggama maupun saat membuang kotoran.)

Ajaran makrifat lain Sunan Kalijaga adalah IBADAH HAJI. Tertera dalam Suluk Linglung suatu ketika Sunan Kalijaga bertekad pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Di tengah perjalanan dia dihentikan oleh Nabi Khidir. Sunan dinasehati agar tidak pergi sebelum tahu hakikat ibadah haji agar tidak tersesat dan tidak mendapatkan apa-apa selain capek. Mekah yang ada di Saudi Arabia itu hanya simbol dan MEKAH YANG SEJATI ADA DI DALAM DIRI. Dalam suluk wujil disebutkan sebagai berikut:
NORANA WERUH ING MEKAH IKI, ALIT MILA TEKA ING AWAYAH, MANG TEKAENG PRANE YEN ANA SANGUNIPUN, TEKENG MEKAH TUR DADI WALI, SANGUNIPUN ALARANG, DAHAT DENING EWUH, DUDU SREPI DUDU DINAR, SANGUNIPUN KANG SURA LEGAWENG PATI, SABAR LILA ING DUNYA.

MESJID ING MEKAH TULYA NGIDERI, KABATOLLAH PINIKANENG TENGAH, GUMANTUNG TAN PACACANTHEL, DINULU SAKING LUHUR, LANGIT KATON ING NGANDHAP IKI, DINULU SAKING NGANDHAP, BUMI ANENG LUHUR, TINON KULON KATON WETAN, TINON WETAN KATON KULON IKU SINGGIH TINGALNYA AWELASAN.

(Tidak tahu Mekah yang sesugguhnya. Sejak muda hingga tua, seseorang tidak akan mencapai tujuannya. Saat ada orang yang membawa bekal sampai di Mekah dan menjadi wali, maka sungguh mahal bekalnya dan sulit dicapai. Padahal, bekal sesungguhnya bukan uang melainkan KESABARAN DAN KESANGGUPAN UNTUK MATI. SESABARAN DAN KERELAAN HIDUP DI DUNIA. Masjid di Mekah itu melingkar dengan Kabah berada di tengahnya. Bergantung tanpa pengait, maka dilihat dari atas tampak langit di bawah, dilihat dari bawah tampak bumi di atas. Melihat yang barat terlihat timur dan sebalinya. Itu pengelihatan yang terbalik).

Maksudnya, bahwa ibadah haji yang hakiki adalah bukanlah pergi ke Mekah saja. Namun lebih mendalam dari penghayatan yang seperti itu. Ibadah yang sejati adalah pergi ke KIBLAT YANG ADA DI DALAM DIRI SEJATI. Yang tidak bisa terlaksana dengan bekal harta, benda, kedudukan, tahta apapun juga. Namun sebaliknya, harus meletakkan semua itu untuk kemudian meneng, diam, dan mematikan seluruh ego/aku dan berkeliling ke kiblat AKU SEJATI. Inilah Mekah yang metafisik dan batiniah. Memang pemahaman ini seperti terbalik, JAGAD WALIKAN. Sebab apa yang selama ini kita anggap sebagai KEBENARAN DAN KEBAIKAN MASIHLAH PEMAHAMAN YANG DANGKAL. APA YANG KITA ANGGAP TERBAIK, TERTINGGI SEPERTI LANGIT DAN PALING BERHARGA DI DUNIA TERNYATA TIDAK ADA APA-APANYA DAN SANGAT RENDAH NILAINYA.

Apa bekal agar sukses menempuh ibadah haji makrifat untuk menziarahi diri sejati? Bekalnya adalah kesabaran dan keikhlasan. Sabar berjuang dan memiliki iman yang teguh dalam memilih jalan yang barangkali dianggap orang lain sebagai jalan yang sesat. Ibadah haji metafisik ini akan mengajarkan kepada kita bahwa episentrum atau pusat spiritual manusia adalah BERTAWAF. Berkeliling ke RUMAH TUHAN, berkeliling bahkan masuk ke AKU SEJATI dengan kondisi yang paling suci dan bersimpuh di KAKI-NYA YANG MULIA. Tujuan haji terakhir adalah untuk mencapai INSAN KAMIL, yaitu manusia sempurna yang merupakan kaca benggala kesempurnaan-Nya.

Sunan Kalijaga adalah manusia yang telah mencapai tahap perjalanan spiritual tertinggi yang juga telah didaki oleh Syekh Siti Jenar. Berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang berjuang di tengah rakyat jelata, Sunan Kalijaga karena dilahirkan dari kerabat bangsawan maka dia berjuang di dekat wilayah kekuasaan. Di bidang politik, jasanya terlihat saat akan mendirikan kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Sunan Kalijaga berperan menasehati Raden Patah (penguasa Demak) agar tidak menyerang Brawijaya V (ayahnya) karena beliau tidak pernah berlawanan dengan ajaran akidah. Sunan Kalijaga juga mendukung Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang dan menyarankan agar ibukota dipindah dari Demak ke Pajang (karena Demak dianggap telah kehilangan kultur Jawa.

Pajang yang terletak di pedalaman cocok untuk memahami Islam secara lebih mendalam dengan jalur Tasawuf. Sementara kota pelabuhan jalurnya syariat. Jasa lain Sunan Kalijaga adalah mendorong Jaka Tingkir (Pajang) agar memenuhi janjinya memberikan tanah Mataram kepada Pemanahan serta menasehati anak Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati agar tidak hanya mengandalkan kekuatan batin melalui tapa brata, tapi juga menggalang kekuatan fisik dengan membangun tembok istana dan menggalang dukungan dari wilayah sekeliling. Bahkan Sunan Kalijaga juga mewariskan pada Panembahan Senopati baju rompi Antakusuma atau Kyai Gondhil yang bila dipakai akan kebal senjata apapun.

@wongalus,2010

WUJUD ALLAH MENURUT SEMBILAN WALI

9 October 2009 at 07:01 | Posted in WUJUD ALLAH MENURUT PARA WALI | 23 Comments Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali  dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?
Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang  dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya.
Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.
Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:
Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.
Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.
Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama).
Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan
Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.
Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.
Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.
Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.
Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.
Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan.
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”
(Al-Muthaffifin: 15-16)
Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan  Dzat-Nya.
Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?
Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”
Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”
Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.”
Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”
Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”
Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”
Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”
Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah”
Sunan Gunung Jati:  “Allah itu adalah yang berwujud haq”
***
@. wongalus, 2009

MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA

8 October 2009 at 18:05 | Posted in MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA | 20 Comments Jeng Sunan Kalijaga ngling
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa

Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira


(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.

Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)

–Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922
Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.
Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.
Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.
Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.
Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.
Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.
Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.
Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.
Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.
Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.
Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI. **
(wongalus)

ILMU SEJATI MENURUT SYEKH SITI JENAR

8 October 2009 at 03:20 | Posted in ILMU SEJATI SITI JENAR | 22 Comments “Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

— “Serat Siti Jenar”
Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.
SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.
Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.
Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.
Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.
Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. ***
(wong alus)

KOMUNITAS SAMIN, PERINTIS SIASAT PERLAWANAN TANPA KEKERASAN ORISINIL KHAS INDONESIA

28 June 2009 at 13:05 | Posted in SEDULUR SIKEP SAMIN | 10 Comments
Tags: , , , , , , ,
Mereka lebih suka disebut Sedulur Sikep. Masyarakat mengenalnya dengan penganut ajaran Samin. Yang luar biasa Logika Pemaknaan Bahasa dijadikan alat perjuangan tanpa kekerasan.
SAMIN
PT Semen Gresik berencana berekspansi modal (sekitar 40% saham asing) ke Kabupaten Pati Jawa Tengah sekitar pertengahan 2008. Pabrik besar akan didirikan tepatnya di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang merupakan kawasan pertanian.
Tidak seperti warga lain yang biasanya menyukai bila tanah miliknya dibeli pemodal besar karena akan dihargai mahal, warga setempat anehnya menolak. Konon, penolakan warga ini dilatarbelakangi oleh sebuah pandangan hidup yang kita kenal dengan AJARAN SAMIN. Penolakan warga ini berbuntut panjang hingga sampai ke meja para wakil rakyat di Komisi VII DPR.
Untuk menjaring aspirasi warga dan mengetahui latar belakang penolakan tersebut Wakil Ketua Komisi VII DPR Sonny Keraf mengadakan dialog dengan Komunitas Samin atau dikenal sebagai para Sedulur Sikep dan perwakilan dari tujuh desa yang bakal terkena dampak langsung pembangunan pabrik semen. Desa-desa itu diantaranya Desa Kedumulyo, Gadudero, Sukolilo, Baturejo, Sumbersoko, dan Tompe Gunung.
Singkatnya, pertemuan digelar di rumah sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Tarno yang usianya sudah mencapai 100 tahun, di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, 27 kilometer selatan pusat pemerintahan Kabupaten Pati, Minggu, 7 September 2008 lalu.
Hasil pertemuan itu adalah: Sonny Keraf meminta kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Negara Lingkungan Hidup menurunkan tim ke Sukolilo bersama-sama lembaga riset untuk mengetahui serta menyelami inspirasi warga setempat.
Kenapa warga menolak pembangunan pabrik semen? Ini berkaitan dengan keinginan warga Sedulur Sikep agar apa yang ada selama ini tidak berubah termasuk pola hidup sederhana yang sudah turun temurun termasuk keseimbangan ekologis yang sudah terjaga.
Sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Tarno saat diwawancarai harian Kompas (9/7), mengungkapkan alasan penolakan warga bahwa selama ini bidang pertanian merupakan sumber penghasilan dan kehidupan mereka. ”Dadi opo anak putuku kabeh setuju yen ono pembangunan pabrik semen (Jadi apa keturunanku semua setuju kalau ada pembangunan pabrik semen)?” kata Mbah Tarno. ”Mboten setuju banget (Sangat tidak setuju),” teriak warga yang memenuhi rumahnya.
Itulah gambaran singkat bagaimana warga Sedulur Sikep. Masih banyak keunikan lain apabila kita menyelami pola pikir dan pandangan hidup mereka. Dulu, jaman kolonial, para Sedulur Sikep dicap sebagai SUBVERSIF oleh Pemerintah Kolonial karena menolak membayar pajak dan sistem pendidikan Belanda. Mereka mengembangkan siasat linguistik yang khas untuk melawan sehingga diolok-olok dengan julukan “Wong Samin”. Kini oleh para PEMODAL SEMEN GRESIK para Sedulur Sikep ini difitnah dan dicap sebagai PROVOKATOR karena menolak pembangunan pabrik semen. Padahal, para Sedulur Sikep Komunitas Samin ini adalah perintis siasat perlawanan ACTIVE NON VIOLENCE orisinil yang khas indonesia melawan PENJAJAHAN.
Bagi warga Sedulur Sikep apabila nanti Pabrik Semen Gresik jadi didirikan di wilayahnya, maka akan muncul dampak lingkungan yang mengancam kawasan Gunung Kendeng yang selama ini menjadi sumber ekologi (air, gua, hewan, tanaman) serta mengancam mata pencaharian bertani. Selain itu pegunungan kapur tersebut juga memiliki MAKNA BUDAYA DAN SEJARAH BAGI MASYARAKAT SEDULUR SIKEP YANG MEMILIKI EKOLOGI KULTURAL NYA SANGAT BERELASI DENGAN LINGKUNGAN (GUNUNG).
Peran pegunungan secara kultural bagi masyarakat Sedulur Sikep dan masyarakat lokal lainnya di wilayah Sukolilo, Pati, memiliki ikatan kesadaran simbolis yang terdapat dalam situs-situs kebudayaan yang banyak terdapat di pegunungan Kendeng. Kesadaran masyarakat lokal di wilayah Sukolilo yang mengikat dengan pegunungan Kendengan diantaranya WATU PAYUNG yang merupakan simbolisasi dari sejarah pewayangan Dewi Kunti, dimana beberapa situs narasi pewayangan tersebut terartikulasikan dalam beberapa relief alam yang terdapat di pegunungan Kendeng.
Di sekitar situs watu payung juga terdapat banyak narasi yang berhubungan dengan kisah pewangan seperti kisah tentang cakar kuku bima, dan lain sebainya. Kemudian di sekitar Watu Payung di pegunungan Kendeng juga terdapat WATU KEMBAR yang berisikan tentang kisah Hanoman yang sedang menaiki puncak gunung sambil bermain bintang dilangit, kemudian dewa marah lalu pindahkannya puncak gunung dan kemudian runtuhannya jatuh menjadi Watu Kembar.
Selain kisah pewayangan juga terdapat situs yang memiliki kaitannya dengan ANGLING DHARMA di sekitar lereng pegunungan Kendeng Sukolilo, kemudian ada GUA JOLOTUNDO yang memiliki korelasi dengan kisah Laut Selatan Jawa. Kemudian ke arah Kayen juga terdapat makam SYEH JANGKUNG yang dianggap sebagai salah satu tokoh lokal dalam mitologi masyarakat lokal di wilayah Pati.
Beberapa situs yang ada di pegunungan Kendeng saat ini, masih diyakini oleh para penduduk sebagai bagian dari kesadaran simbolisnya, hal ini terlihat masih banyak peziarah atau para pengunjung yang datang sebagai bagian dari bentuk kesadaran kultural dan spiritualitas. Kekuatan simbolik situs-situs kebudayaan yang ada di wilayah pegunungan Kendeng memiliki ikatan kultural tidak hanya seputar Sukolilo Pati, hal ini terlihat banyaknya peziarah dan para pengunjungan yang hadir di beberapa situs Watu Payung dan lain sebagianya berasal dari wilayah Demak, Jepara, dan sekitarnya.
Kesemua kisah mitologi lokal diatas sangat memiliki basis material pada wilayah pegunungan Kendeng di wilayah Sukolilo Pati. Sebagai proses antara yang natural dengan yang kultural, mitologi lokal ini memang berasal dari tradisi tutur (lisan) yang memiliki kekuatan identitas bagi banyak entitas masyarakat. Dalam prespektif ekologi sosial, MITOLOGI LOKAL TERSEBUT MEREDUKSI ALAM MENJADI BAHASA MASYARAKAT (KEBUDAYAAN) YANG BERBASIS LOKALITAS. SEHINGGA MENJADIKAN LINGKUNGAN (PEGUNUNGAN) BUKAN SAJA MEMILIKI KEKUATAN EKOLOGI PERTANIAN (MATA PENCAHARIAN), NAMUN JUGA TERDAPAT KEKUATAN BUDAYA YANG MENYATU DENGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT.
Sedulur Sikep dari bahasa Jawa berarti “Sahabat Sikep” adalah kelompok masyarakat yang berusaha menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Samin. Komunitas masyarakat yang disebut Sedulur Sikep ini terbanyak ditemukan di daerah daerah dan kota antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
@@@@@
SAMIN SUROSENTIKO adalah pencetus gerakan sosial ini. Dia lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau Samin Sepuh. Ia mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang bernafaskan wong cilik. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan Pangeran Kusumoningayu yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto (kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada 1802-1826. Samin wafat dalam pengasingan (ia diasingkan oleh Belanda) di kota Padang, Sumatra Barat pada tahun 1914.
Kyai Samin sejak dini gemar bertapa brata, prihatin, suka mengalah dan mencintai keadilan. Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas banyaknya nasib rakyat yang sengsara akibat kebijakan Belanda melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak. Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarakat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang berasal dari kata “SAMI-SAMI AMIN” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika dia melakukan langkah yang berani untuk membiayai masyarakat miskin dengan caranya sendiri.
Bisa disimpulkan, gerakan sosial ini muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri.
Komunitas Sedulur Sikep memiliki tiga unsur gerakan; PERTAMA, gerakan mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung; Kedua, gerakan tanpa perlawanan fisik yang mencolok; dan KETIGA, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaganya untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci.
Menurut Sejarahwan Sartono Kartodirjo, Gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih.
Pengikut gerakan sosial Samin awalnya memegang lima prinsip perjuangan untuk meneguhkan identitas melawan kolonial: TIDAK BERSEKOLAH (sekolah kolonial), TIDAK MEMAKAI PECI, TAPI MEMAKAI “IKET”, YAITU SEMACAM KAIN YANG DIIKATKAN DI KEPALA MIRIP ORANG JAWA DAHULU, TIDAK BERPOLIGAMI, TIDAK MEMAKAI CELANA PANJANG, DAN HANYA PAKAI CELANA SELUTUT, TIDAK BERDAGANG DAN PENOLAKAN TERHADAP KAPITALISME. Seiring dengan perubahan jaman, lima prinsip ini mengalami penyesuaian, seperti saat ini warga memiliki kesadaran untuk menuntut ilmu dengan sekolah yang setinggi-tingginya.
Pandangan hidup Samin bersumber dari berbagai keyakinan seperti Hidhu-Dharma dan Syiwa-Budha. Juga dipengaruhi oleh ajaran Islam yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa yaitu Ki Ageng Pengging sehingga mereka merupakan bagian masyarakat yang berbudaya tinggi dan religius.
Daerah persebaran ajaran Komunitas Samin diantaranya di Tapelan (bojonegara), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati), dan Tlaga Anyar (Lamongan) dan lainnya. Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah GERAKAN MEDITASI DAN MENGERAHKAN KEKUATAN BATINIAH GUNA MENGUASAI HAWA NAFSU.
Pandangan Sedulur Sikep terhadap para leluhur yaitu Kyai Samin moksa ke kaswargan. Pada momentum perayaan upacara mauludan juga ajang untuk mengenang kepahlawanan Kyai Samin. Setiap pemuka masyarakat berpegangan sejenis primbon (kepek) yang mengatur kehidupan luas, kebijaksanaan, petunjuk dasar ketuhanan, tata pergaulan muda-mudi, remaja, dewasa dan antarwarga.
Bahasa yang digunakan oleh para Sedulur Sikep yaitu bahasa kawi yang ditambah dengan dialek setempat, yaitu bahasa Jawi Ngoko. Mereka memiliki kepribadian yang polos dan jujur, selalu menyuguhkan makanan dan tidak pernah minyimpan makanan yang dimilikinya. Pengatahuan mereka terhadap ritus perkawinan sangat unik. Para Sedulur Sikep menganggap bahwa dengan melalui ritus perkawinan, mereka dapat belajar ILMU KASUNYATAN yang selalu menekankan pada dalih KEMANUSIAAN, RASA SOSIAL DAN KEKELUARGAAN DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL.
Ritus perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja (U)Tama” atau anak yang mulia. Pengantin pria mengucapkan kalimat: “Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…… Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”
Demikian beberapa hal yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi. Perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang tua pengantin. Ajaran perihal Perkawinan dalam tembang Pangkur orang Samin adalah sebagai berikut (dalam Bahasa Jawa):
“SAHA MALIH DADYA GARAN, (Maka yang dijadikan pedoman), ANGGEGULANG GELUNGANING PEMBUDI, (untuk melatih budi yang ditata), PALAKRAMA NGUWOH MANGUN, (pernikahan yang berhasilkan bentuk), MEMANGUN TRAPING WIDYA (membangun penerapan ilmu), KASAMPAR KASANDHUNG DUGI PRAYOGÂNTUK, (terserempet, tersandung sampai kebajikan yang dicapai), AMBUDYA ATMAJA ‘TAMA (bercita-cita menjadi anak yang mulia), MUGI-MUGI DADI KANTHI (mudah-mudahan menjadi tuntunan).
Kemajuan harus berorientasi pada PROSES yang memakan waktu, tidak serta merta berorientasi pada HASIL. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku menolak mesin seperti traktor, huller dan lain-lain. Pakaian yang digunakan adalah kain dengan dominasi warna hitam dengan bahan yang terbuat dari kain kasar.
Kepercayaan dan tata cara hidup juga mengalami perkembangan. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat sempalan gerakan sosial yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar yang telah meninggalkan tata cara hidup Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal wong sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan arahan dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma.
Beberapa pandangan hidup Komunitas Samin diantaranya; menguasai adanya kekuasaan tertinggi (sang Hyang Adi budha), ramah dan belas kasih terhadap sesama mahluk, tidak terikat kepada barang-barang dunia-kegembiraan-dan kesejahteraan, serta memelihara keseimbangan batin dikalangan antar warga. Gerakan sosial Samin dengan jelas mencita-citakan membangun negara asli pribumi, yang bebas dari campur tangan kolonialisme, tiada dominasi dunia barat. Ajaran politiknya yaitu cinta dan setia kepada amanat leluhur, kearifan tua, cinta dan hormat akan pemerintahan yang dianggap sebagai orang tua dan sesepuh rohani, hormat dan setia pada dunia intelektual.
Referensi gerakan sosial Samin yang menjadi panduan perilaku adalah SERAT JAMUS KALIMASADA yang terdiri atas beberapa buku, antara lain SERAT PUNJER KAWITAN, SERAT PIKUKUH KASAJATEN, SERAT URI-URI PAMBUDI, SERAT JATI SAWIT, SERAT LAMPAHING URIP, dan merupakan nama-nama serat yang diugemi.
Dengan mempedomani kitab itulah, gerakan sosial/sikap Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap DRENGKI SREI, TUKAR PADU, DAHPEN KEMEREN. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah “LAKONANA SABAR TROKAL. SABARE DIELING-ELING. TROKALI DILAKONI.”
@@@@
Menurut Harry J. Benda dan Lance Castles dalam bukunya THE SAMIN MOVEMENT (1960), ajaran Samin tumbuh tahun 1890-an dan berakar di Randublatung, sebuah kota kecamatan kecil yang dikelilingi lebat hutan jati 25 kilometer sebelah tenggara kota Blora. Pengikut Samin meyakini bahwa jauh sebelum kedatangan orang-orang asing, dari Cina, India, Arab dan Eropa, dengan membawa ajaran agama masing-masing, di Jawa sudah terdapat agama tersendiri. “Ya agama Jawa itu. Agama Adam,” ujar Mbah Karmidi menerangkan.
Keyakinan ini menekankan perlunya dua nilai utama dalam kehidupan, yakni kejujuran dan kebenaran. Inti ajaran Samin yang mengatur tata laku keseharian diabstraksikan dalam konsep Pandom Urip (Petunjuk Hidup) yang mencakup “ANGGER-ANGGER PRATIKEL” (hukum tindak tanduk), “ANGGER-ANGGER PENGUCAP“ (hukum berbicara), serta “ANGGER-ANGGER LAKONANA” (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan). Hukum yang pertama berbunyi “AJA DENGKI SREI, TUKAR PADU, DAHPEN KEMEREN, AJA KUTIL JUMPUT, MBEDOG COLONG.” Maksudnya, warga dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati pada orang lain, dan dilarang mengambil milik orang.
Hukum ke dua berbunyi “PANGUCAP SAKA LIMA BUNDHELANE ANA PITU LAN PENGUCAP SAKA SANGA BUNDHELANE ANA PITU.” Maknanya, orang harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima, tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain yang mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna. Hukum yang paling akhir berbunyi “LAKONANA SABAR TROKAL. SABARE DIELING-ELING. TROKALE DILAKONI.” Warga senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat “ bagaikan orang mati dalam hidup”.
Adapun yang menarik ialah logika berpikir yang bisa terlihat dari pemaknaan bahasanya. Misalnya pengikut gerakan Samin ditanya “umur kakek berapa?” Ia akan menjawab “Satu untuk selamanya”. Artinya umur manusia itu satu. Umur adalah hidup dan hidup adalah nyawa. Manusia hanya punya satu umur dan nyawa. Juga dalam tradisi bertamu, mereka tidak mengenal kata MONGGO (kata yang mempersilahkan tamu untuk duduk atau masuk), karena menurutnya mereka jika SESEORANG INGIN DUDUK, YAH DUDUK SAJA. Juga tidak tak perlu menyatakan terimakasih (matur nuwun dalam bahasa Jawanya) karena pihak pemberi memberikan sesuatu berdasarkan kemauannya sendiri, bukan berdasarkan permintaan dari seseorang lainnya.
LOGIKA PEMAKNAAN BAHASA YANG LUGAS INILAH YANG MEMBAWA GERAKAN SOSIAL INI MENJADI SEBENTUK PERLAWANAN PADA KESEWANG-WENANGAN. Sebagai contoh seorang aparat desa di masa tahun 1900-an meminta agar warga membayar pajak sewa tanah yang digarapnya. Lalu warga menggali tanahnya serta memasukkan uang ke lubang dan menutupnya. “mengapa kamu menguburkan uang di dalam tanah?” tanya aparat desa itu. Para pengikut Samin itu menjawab “tanah itu milik bumi, jadi saya harus bayar sewa tanah pada bumi, bukan pada penjajah”.
Seorang wartawan yang berkunjung ke Rembang pada Desember 1914 (dalam Harry J. Benda dan Lance Castles dalam bukunya THE SAMIN MOVEMENT), mencatat peristiwa seorang patih yang sedang memeriksa seorang Samin di pengadilan karena dirinya tak mau membayar pajak.
+ “Kamu masih hutang 90 sen kepada negara”
- saya tak hutang kepada negara”
+ “Tapi kamu mesti bayar pajak.”
- “Wong Sikep (warga pengikut Samin) tak kenal pajak
+ “Apa kamu gila atau pura-pura gila? “
- “Saya tidak gila dan juga tidak pura-pura gila”
+ “Kamu biasanya bayar pajak, kenapa sekarang tidak?”
- Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang. Kenapa negara tak habis-habis minta uang?”
+ Negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak cukup uang, tak mungkin merawat jalan-jalan dengan baik.”
- “Kalau menurut kami keadaan jalan-jalan itu menganggu kami, kami akan membetulkannya sendiri.”
+ Jadi kamu tak mau bayar pajak?”
- Wong Sikep tak kenal pajak.”
Mencermati sejarah gerakan para Sedulur Sikep Komunitas Samin ini, rakyat Indonesia harusnya berguru kepada mereka. Ternyata BAHASA mampu menjadi alat untuk melakukan sebuah perubahan sosial ke arah yang lebih baik. CARA-CARA YANG SANTUN TANPA KEKERASAN dalam berjuang ini mengingatkan kita pada gerakan sosial Mahatma Gandhi di India yang fenomenal itu. SEMOGA SAUDARA SEDULUR SIKEP SELALU DIBERIKAN KEKUATAN OLEH TUHAN UNTUK TETAP MENGEMBANGKAN MODEL PERJUANGAN YANG SANTUN, SALING ASAH ASIH DAN ASUH YANG TELAH DICONTOHKAN PARA PENDAHULU MEREKA YANG KINI TELAH MOKSA.
Wong Alus
–Artikel ini hasil interpretasi yang bersumber dari literatur-literatur skunder. Monggo dikoreksi bersama bila salah dan mohon maaf bila kurang berkenan.

METAFISIKA WAHDATUL WUJUD

24 May 2009 at 12:08 | Posted in METAFISIKA WAHDATUL WUJUD | 11 Comments
Tags: , , , , ,
PROBLEM seputar masalah YANG ADA merupakan problem yang berat. Artikel ini bersandar pada teori YANG ADA dari khasanah Metafisika Islam yaitu Mulla Sadra. Meskipun pendek, diharapkan agar bisa menjadi titik pijak untuk memahami metafisika KESATUAN TUHAN atau WAHDATUL WUJUD yang terkenal dengan tokoh-tokoh sufinya seperti Al Hallaj maupun Syeh Siti Jenar.
Dasar dari Filsafat adalah Metafisika. Metafisika dibagi menjadi METAFISIKA UMUM disebut dengan ONTOLOGI, dan METAFISIKA KHUSUS yang terdiri dari KOSMOLOGI, FILSAFAT MANUSIA atau ANTROPOLOGI METAFISIK dan FILSAFAT KETUHANAN atau TEODICEA.
Di antara tema-tema METAFISIKA UMUM yang paling banyak melahirkan kontroversi adalah problema YANG ADA. Sebab hakikatnya terasa ribet dan ruwet. Hal ini lantaran YANG ADA merupakan sesuatu yang repot bila didefinisikan, mengingat untuk mendefinisikan suatu objek, kita butuh sesuatu yang lain yang lebih jelas dari objek itu sendiri. Sementara YANG ADA itu adalah obyek sekaligus juga subyek karena kita ada didalam YANG ADA.
Menurut para filsuf, konsepsi YANG ADA sedemikian terangnya, sehingga ia persis menyerupai matahari. Dan karena sedemikian terangnya, ia tak mungkin bisa dilihat manusia. Demikianlah YANG ADA. Begitu jelasnya YANG ADA, maka ia tak mungkin bisa didefinisikan lewat genus dan diferensia, yang secara otomatis berarti harus lebih terang ketimbang YANG ADA itu sendiri.
Secara historis, tema YANG ADA menjadi tema fundamental metafisika yang didiskusikan oleh hampir seluruh filsuf klasik sejak Thales di era Yunani Kuno sampai Josiah Royce di era Modern. Namun harus digarisbawahi di sini bahwa mereka masih sekadar menempatkan problematika YANG ADA sebagai bagian dari tema-tema universalitas saja, sama seperti masalah-masalah universalitas yang lain seperti problematika substansi dan aksidensi, unitas dan pluralitas, dan sebagainya.
Sejak kehadiran Mulla sadra, lahirlah mazhab filsafat EKSISTENSIalisme dalam komunitas Muslim. Namun, EKSISTENSIalisme Sadra sangat berbeda dengan mazhab EKSISTENSIalisme seperti Kierkegaard, Jean Paul Sartre, atau Heidegger.
EKSISTENSIalisme Islam adalah sebuah mazhab filsafat metafisis yang murni. Tujuan utamanya adalah ingin mencari tahu dan bahkan ingin sampai kepada YANG ADA SEBAGAIMANA YANG ADA yang sebenarnya (the Ultimate Reality). Dengan demikian, nuansa metafisika YANG ADA dalam Islam lebih bersifat teistik bahkan sufistik; sementara aliran filsafat EKSISTENSIalisme barat sebagiannya condong pada ATEISME.
Untuk bisa memahami metafisika YANG ADA, ada baiknya kita batasi pembahasan hanya pada teori Mulla Sadra tentang YANG ADA. Konsep Sadra berdiri di atas tiga prinsip dasar yang sangat fundamental. Dengan memahami ketiga prinsip ini, diharapkan kita akan dengan mudah memahami teori-teori filsafatnya yang lain, baik yang berkaitan dengan kosmologi, epistimologi, dan bahkan teologinya. Ketiga prinsip tersebut adalah sebagai berikut: WAHDATUL WUJUD (KESATUAN YANG ADA), TASYKIKUL WUJUD dan ASALATUL WUJUD. Kita akan mengelaborasi ketiga prinsip ini secara sederhana.
Secara historis, teori WAHDATUL WUJUD pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi. Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat. Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat. Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya TUHAN YANG EKSIS sementara selain Tuhan tak ada yang eksis. Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa SELURUH YANG BERWUJUD SELAIN TUHAN HANYALAH TAJALLIYAT (MANIFESTASI) DARI ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT TUHAN.
Namun Sadra melihat bahwa YANG ADA SEBAGAI YANG ADA meskipun SATU, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama YANG ADA. Sifat YANG ADA-nya TUHAN MUTLAK, sementara yang ada lain hanya bersifat YANG ADA DALAM KEMUNGKINAN. Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. YANG HARUS ADA berbeda dengan YANG MUNGKIN ADA.
Teori WAHDATUL WUJUD sebagai teori tentang YANG ADA menekankan pada KESATUAN YANG ADA yang hadir pada segala sesuatu. Tuhan MEMILIKI SIFAT YANG ADA, begitu juga dengan manusia, benda-benda mati. Apakah YANG ADA setiap satu dari mereka sifatnya berdiri sendiri (self-subsistence) atau justru ADA KARENA ADANYA YANG LAIN. Lalu kalau pilihannya adalah yang kedua, apa beda antara YANG ADA-NYA TUHAN dengan YANG ADA selainnya? Lalu bagaimana mungkin kita bisa membayangkan bahwa YANG ADA itu SATU, sementara di dunia YANG ADA kita menemukan entitas-entitas yang sepertinya berdiri sendiri. Lalu berapa jumlah YANG ADA?
Persoalan itu dalam metafisika dikenal dengan istilah problem antara YANG SATU DAN YANG BANYAK. Pertama, ada yang disebut dengan istilah composite existence dimana keberadaan entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu yang termasuk dalam kategori ini maka YANG ADAnya pasti akan terbatas.
Kedua, the Simple Existent, di mana jenis YANG ADAnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya ia tidak pernah terbatas. YANG ADA ini hanya milik TUHAN saja di mana YANG ADANYA merupakan WUJUD-Nya itu sendiri. Simplifikasi jenis YANG ADA TUHAN ini disebut Sadra dengan istilah basitul haqiqah kullu syaiy (bahwa YANG ADA yang bersifat sederhana adalah YANG ADA yang mencakup seluruh entitas yang disebut “sesuatu”.) Karenanya mengikut formula ini, YANG ADA manusia adalah bagian inheren dari YANG ADA TUHAN.
Prinsip WAHDATUL -WUJUD atau KESATUAN YANG ADA dalam filsafat Sadra ini yang melihat KESATUAN YANG ADA terbentang lebar pada segala apa yang disebut sebagai YANG ADA INDIVIDUAL sampai YANG MUNGKIN ADA yang beraneka ragam dan bervariasi, sehingga YANG ADA memiliki sistematisasi.
Menurut aliran filsafat ESENSIALISME, ESENSI tak mengalami perubahan. Yang berubah adalah instansi-instansi partikularnya. Ketika warna putih mengalami intensifikasi warna, itu berarti bahwa warna dahulu hilang dan lahir warna baru yang menggantikannya.
Sadra menolak teori ini. Mereka melihat bahwa suatu ESENSI tidak pernah mengalami perubahan. Suatu ESENSI bisa saja memiliki wilayah intensitas yang tak terbatas. Ketika warna putih mengalami intensifikasi, bukan hanya ke-putih-annya yang tetap, bahkan “putih”nya juga tetap. Jadi semua yang disebut ESENSI memiliki kapabilitas untuk menjadi “more or less”: semua manusia bisa jadi “lebih” atau “kurang” manusia dari manusia lain. “Manusia” dan “kemanusiaan” Muhammad saw lebih sempurna dari manusia dan kemanusiaan kita.
Ini adalah teori “MORE PERFECT AND LESS PERFECT” yang kemudian dimodifikasi oleh Sadra. Pertama, prinsip ambiguitas ini dirubahnya dari ambiguitas ESENSI menjadi ambiguitas dalam EKSISTENSI. Dengan kata lain, yang mengalami graditas bukan ESENSI, tapi justru EKSISTENSInya. Kedua, teori ambiguitas EKSISTENSI ini juga terjadi secara sistematis bukan sekadar ambiguitas. Itu berarti, EKSISTENSI adalah sama bagi seluruh EKSISTENSI, seperti EKSISTENSI Tuhan yang wajib dan makhluk yang mungkin, adalah sama apabila dilihat dari sisi predikat EKSISTENSInya.
Meskipun predikat EKSISTENSI di atas sama namun setiap EKSISTENSI tetap memiliki keunikannya tersendiri yang memisahkannya dari yang lain. Seluruh bentuk EKSISTENSI yang lebih tinggi pasti mengandung bentuk EKSISTENSI yang lebih rendah bahwa EKSISTENSI yang sederhana pasti mencakup secara inheren segala EKSISTENSI yang berada di level bawahnya.
Dengan dasar prinsip di atas KESATUAN YANG ADA terpelihara pada semua EKSISTENSI; namun keragamannya juga terpelihara. Ketika dua prinsip di atas tak terbantahkan secara common sense, maka lahirnya prinsip YANG ADA adalah sesuatu yang aksiomatis. YANG ADA berarti bahwa YANG ADA adalah prinsip dari segala wujud yang ada. Lawan darinya adalah prinsip bahwa YANG ADA sekadar asumsi akal. Perbedaan kedua prinsip ini secara historis telah lahir jauh sebelum munculnya Sadra, seperti yang dapat kita simak dari teori-teori Farabi, Ibnu Sina, bahkan Aristoteles.
Sesuatu memerlukan YANG ADA agar ia bisa eksis. Tanpa YANG ADA, suatu hal tidak akan pernah bisa berEKSISTENSI, suatu YANG ADA tidak akan bisa memperoleh partikularisasinya di dunia YANG ADA. Teori dualitas antara YANG ADA ini kemudian ditolak secara tegas oleh pekikir Islam lain, Suhrawardi. Menurut Suhrawardi, apa yang kita lihat sebagai EKSISTENSI di dunia YANG ADA adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab, apabila kita terima teori itu, maka YANG ADA itu sendiri akan memerlukan YANG ADA lain yang bisa memberinya EKSISTENSI; demikianlah seterusnya sehingga ia tak akan berakhir atau mengalami regresi yang infinitum.
Lebih jauh ia mengatakan bahwa suatu YANG ADA yang konkrit tiada lain adalah sebuah fakta bahwa itu adalah YANG ADA itu sendiri. Sehingga kalimat YANG ADA tiada lain kecuali abstraksi akal semata-mata.
Sadra yang EKSISTENSIALIS dan yang berusaha maksimum untuk mensintesiskan kedua aliran ini menolak pendapat Suhrawardi. Baginya yang riil adalah YANG ADA, sementara ESENSI adalah abstraksi mental semata-mata. YANG ADA bukan hanya lebih prinsipiil atau sekadar fondasi bagi seluruh YANG ADA, namun ia adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab sifat YANG ADA yang paling fundamental yakni SEDERHANA dan berkarakter MENYEBAR ke dalam seluruh celah-celah apa yang disebut sebagai EKSISTENSI.
Dan EKSISTENSI yang ada di hadapan kita tidak lebih pembatasan-pembatasan yang mempartikulasikan bentangan YANG ADA itu sendiri. Ketika kita melihat di dunia YANG ADA ini ADA, misalnya, kursi, meja, si Amir, kuda, dan sebagainya, maka entitas-entitas itu “membelah” dari bentangan YANG ADA.
Akhirnya, secara teologis, konsep YANG ADA dari Mulla Sadra di atas mengajak kita memahami makna the ULTIMATE REALITY di mana ADA-NYA TUHAN memiliki sifat partikular juga menyatu dalam maknanya yang sangat unik. Meskipun WAHDATUL WUJUD atau YANG ADA ITU MENYATU namun tidak terjebak pada teori PANTEISME, karena YANG ADA entitas-entitas selain-Nya juga tetap terpelihara. Itulah yang dimaksudkan firman Allah “AKU LEBIH DEKAT DENGANMU DARIPADA DIRIMU SENDIRI.”

2 komentar:

  1. SEKEDAR INFO BAGI ANDA..............!!!!!


    NAMA SAYA PAK ILHAM. DARI MEDAN, SAYA HANYA INGIN BERBAGI CERITAH DENGAN KALIAN,PENGGILAH TOGEL, AWALNYA ITU SAYA HANYA PENARIK BECAK, ANAK SAYA DUA,ISTRI SAYA HANYA PENJUAL NASI BUNGKUS , EKONOMI KAMI SANGAT PAS-PASAN, HUTAN TAMBAH MENUMPUK, ANAK SAYA JUGA MAU BIAYA SEKOLAH,ANAK SAYA. TAPI AKHIRNYA ADA TEMAN LANSUNG KASIH NOMOR HP AKI SALEH KATANYA DIA BISA MEMBANTU ORANG SUSAH JADI SAYA LANSUNG HBU AKI SALEH, DAN SAYA MENCERITAKAN SEMUANYA,TENTENG KELUARGA KAMI AKHIRNYA DI KASIH ANGKA GHAIB [4D,] SUDAH 10x PUTARAN TEMBUS,DENGAN ADANYA AKI SALEH,SAYA SEKELUARGA BERSUKUR SEMUA UTANG SAYA LUNAS BAHKAN SEKARANG SAYA SUDAH BUKA USAHA SILAHKAN ANDA BUKTIKAN. SENDIRI, INSYA ALLAH ANDA TIDAK AKAN KECEWA DARI ANGKA GHAIB KI SALEH BAGI YANG BERMINAT HUB AKI SALEH DI NOMOR INI ;(_0823-3711-5727_) SAYA SUDAH BUKTIKAN SENDIRI ANGKA GHOIBNYA DEMIH ALLAH DEMI TUHAN...INI KISAH NYATA DARI SAYA,terima kasih........!!! >>>KLIN DISINI<<<



    >>>KLIN DISINI<<<
    ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
    ╔══╗═════╔╗═════
    ╚╗╔╬═╦═╦═╣╠╦╦╦╦╗
    ═║║║╩╣║║╬║═╣║║║║
    ═╚╝╚═╩╩╬╗╠╩╬╗╠═╝
    ═══════╚═╝═╚═╝══
    ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★




    NAMA SAYA PAK ILHAM. DARI MEDAN, SAYA HANYA INGIN BERBAGI CERITAH DENGAN KALIAN,PENGGILAH TOGEL, AWALNYA ITU SAYA HANYA PENARIK BECAK, ANAK SAYA DUA,ISTRI SAYA HANYA PENJUAL NASI BUNGKUS , EKONOMI KAMI SANGAT PAS-PASAN, HUTAN TAMBAH MENUMPUK, ANAK SAYA JUGA MAU BIAYA SEKOLAH,ANAK SAYA. TAPI AKHIRNYA ADA TEMAN LANSUNG KASIH NOMOR HP AKI SALEH KATANYA DIA BISA MEMBANTU ORANG SUSAH JADI SAYA LANSUNG HBU AKI SALEH, DAN SAYA MENCERITAKAN SEMUANYA,TENTENG KELUARGA KAMI AKHIRNYA DI KASIH ANGKA GHAIB [4D,] SUDAH 10x PUTARAN TEMBUS,DENGAN ADANYA AKI SALEH,SAYA SEKELUARGA BERSUKUR SEMUA UTANG SAYA LUNAS BAHKAN SEKARANG SAYA SUDAH BUKA USAHA SILAHKAN ANDA BUKTIKAN. SENDIRI, INSYA ALLAH ANDA TIDAK AKAN KECEWA DARI ANGKA GHAIB KI SALEH BAGI YANG BERMINAT HUB AKI SALEH DI NOMOR INI ;(_0823-3711-5727_) SAYA SUDAH BUKTIKAN SENDIRI ANGKA GHOIBNYA DEMIH ALLAH DEMI TUHAN...INI KISAH NYATA DARI SAYA,terima kasih........!!! >>>KLIN DISINI<<<



    >>>KLIN DISINI<<<
    ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
    ╔══╗═════╔╗═════
    ╚╗╔╬═╦═╦═╣╠╦╦╦╦╗
    ═║║║╩╣║║╬║═╣║║║║
    ═╚╝╚═╩╩╬╗╠╩╬╗╠═╝
    ═══════╚═╝═╚═╝══
    ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★

    BalasHapus
  2. saya sangat berterimakasih banyak kepada MBAH RIJI atas bantuannya saya bisa menang togel 4D nya..saya ingin berbagi cerita kepada semuanya bahwa saya ini cuma seorang TKI dari malaysia dan saya cuma bekerja sebagai pembantu,tentunya anda tau kalau pembantu itu gajinya tidak seberapa dan saya kepengen pulang kampung tapi gaji saya tidak cukup akhirnya saya coba pinjam keteman saya,dia pun juga tidak punya uang dan saya pindah lagi keteman yang lain dia pun juga tidak punya,,akhirnya teman saya memberikan nomor telpon MBAH RIJI dan katanya ini paranormal sangat terkenal yang banyak membantu orang dalam mengatasi masalah,dengan penuh semangat saya langsun menghubungi MBAH RIJI dan ALHAMDULILLAH saya diberikan anka yang benar-benar tembus dan berkat bantuan MBAH RIJI saya sudah bisa berkumpul kembali dengan keluarga saya dikampung,,jika anda sangat membutuhkan bantuan..jangan anda ragu silahkan hubungi saja MBAH RIJI di 082 388 362 128 karna beliau meman benar-benar paranormal yang bisa dipercaya dan yang punya room terimah kasih banyak atas tumpangannya.

    BalasHapus